in

Ruang Untuk Cerita Baru

Malam tahun baru lalu saya pulang dalam keadaan mabuk parah. Benar-benar parah, hingga saya nggak tau apa yang saya lakukan. Biasanya, dalam keadaan seperti ini, yang berjalan adalah alam bawah sadar saya. Iya, alam bawah sadar yang sering digunakan orang untuk hipnotis itu.

Kerja bawah sadar selalu dominan ketika kesadaran tertanggu. Ibaratnya supir pengganti ketika supir utamanya berhalangan. Itulah kenapa orang-orang mabuk sering meracau atau bertingkah nggak jelas. Bahkan, pada kondisi tertentu, segala rahasia justru terbongkar. Karena tingkah dan perkataan mereka adalah apa yang mereka simpan dalam bawah sadar mereka.

Sering orang mengatakan kalau ketika mabuk maka sifat asli seseorang akan muncul. Pendapat ini sebenarnya keliru, karena bawah sadar berbeda dengan sifat asli. Bawah sadar lebih cenderung menjelaskan hal-hal terpendam baik itu dari sisi emosi maupun fantasi seseorang. Berbeda dengan sifat asli yang justru menjelaskan pilihan-pilihan atau solusi yang diambil seseorang atas sebuah masalah.

Keberadaan bawah sadar ini pulalah yang menjelaskan kenapa ketika mabuk saya bisa tiba di rumah dengan mengendarai motor. Padahal, jangankan untuk mengendarai motor, untuk berjalanpun sudah sempoyongan. Tapi, bawah sadar saya justru mampu membuat motor saya berjalan hingga sampai rumah.

Mungkin banyak yang nggak percaya kalau kecelakaan bukanlah disebabkan oleh kemabukan. Tapi oleh orang yang ketiduran saat berkendara dalam keadaan mabuk. Karena, dalam keadaan mabuk mata cenderung susah untuk dibuka, detak jantung cenderung melambat, ditambah pula dengan desiran angin ketika berkendara, jadilah mabuk dan ketiduran saat berkendara.

Dalam keadaan mabuk seperti ini, biasanya saya nggak ingat apa yang saya lakukan. Banyak hal yang saya lakukan justru terhapus dari ingatan saya. Biasanya sih baru teringat setelah ada trigger. Semacam ada kawan yang bercerita dan kepala saya mulai menyusun kepingan-kepingannya menjadi satu cerita utuh. Meskipun nggak utuh-utuh banget, tapi paling tidak ada gambaran mengenai kelakuan saya ketika mabuk.

Pagi itu, seperti biasa, saya terbangun dalam keadaan kepala pusing karena kurang tidur dan kurang makan. Situasi yang memang sering terjadi setelah mabuk. Saya sering menyebutnya dengan SMS (Sisa Mabuk Semalam).

Seperti biasa pula, setelah bangun tidur, saya selalu minum air, merokok kemudian memeriksa pesan dan panggilan di handphone. Dan, pagi itu seketika terasa berbeda karena ternyata saat mabuk semalam saya mengirimkan pesan ke beberapa orang melalui aplikasi Whatsapp.

Entah apa yang saya pikirkan ketika itu, tapi yang saya tau, alam sadar saya bahkan nggak akan mengirimkan pesan pada orang-orang tersebut. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya saya tinggalkan tahun lalu. Mereka seharusnya memang menjadi bagian dari masa lalu saja, tanpa tersangkut lagi di masa sekarang.

Lama saya berpikir, dan akhirnya saya menyadari kalau orang-orang yang saya kirimi pesan adalah orang-orang yang ceritanya belum selesai. Bawah sadar saya mencatat kalau ada cerita yang belum selesai antara saya dan mereka. Pesan itu adalah isyarat kalau saya ingin menyelesaikan semuanya dengan baik. Paling tidak, melalui pesan itu saya membebaskan diri saya dari beban masa lalu saya dengan baik melalui pesan yang menyatakan kalau semua masih baik-baik saja dengan yang pernah terjadi.

Nggak ada orang yang bisa seratus persen memulai cerita baru ketika cerita-cerita sebelumnya belum selesai. Ini yang banyak dilupakan orang ketika hendak memulai sebuah cerita. Dan, itu pula yang saya lupakan selama ini.

Saya cukup beruntung di akhir tahun kemarin bawah sadar saya mengingatkan hal ini. Beruntung pula saya diingatkan kalau beberapa orang memang selayaknya ditinggalkan di tahun lalu. Nggak perlu untuk membawa mereka ke tahun-tahun yang akan datang.

Lebih beruntung lagi ketika saya diingatkan kalau umur saya sudah semakin bertambah, dan di umur sekarang ini, jumlah kawan akan semakin berkurang karena itu selayaknya saya mulai paham siapa-siapa saja yang layak untuk saya ikut sertakan ke tahun-tahun mendatang.

Saya teringat dengan kebiasaan saya mengarsipkan semua pesan yang masuk di handphone saya. Baik itu berupa sms, email maupun pesan melalui whatsapp. Bertahun melakukan ini membuat semua percakapan tersimpan dengan baik. Semua percakapan, bahkan sampai percakapan teraneh sekalipun masih tersimpan dengan baik.

Setelah sedikit membaca ulang semua percakapan tersebut, saya memutuskan untuk menghapus semuanya. Mengosongkan semua arsip percakapan masa lalu itu. Berlanjut dengan menghapus semua kontak yang nggak pernah saya hubungi lagi. Dan, terutama, saya memblokir kontak-kotak yang nggak ingin saya dengar lagi ceritanya di masa yang akan datang.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk memberi ruang pada cerita-cerita baru dengan orang-orang baru yang akan datang di tahun-tahun mendatang. Saya menyudahi semua cerita-cerita yang telah selesai di masa lalu. Dan, mungkin, bisa saya katakan kalau saya telah meninggalkan semua untuk terus melangkah kedepan. Terdengar klise, sih, tapi setidaknya, itu yang terjadi. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × three =

Nikmat Ngerokok di Ngurah Rai

Cermin