in

Sabuk Kekebalan

Kakek saya adalah orang yang telah dewasa ketika terjadinya tragedi 65. Tragedi berdarah yang mengorbankan banyak orang. Kabarnya, yang terbanyak ada di Bali, di tempat asal dan tempat tinggal saya sekarang ini. Dan di desa saya sendiri berjatuhan puluhan korban atas tragedi itu. Ada banyak sebabnya, entah itu sentimen pribadi, masalah keluarga, masalah organisasi atau masalah politik.

Tidak ada satu rangkaian yang jelas mengenai penyebab tragedi itu. Yang ada hanyalah bacaan dari journal dan penelitian yang sekarang ini banyak tersedia di internet. Tidak pula bisa dinyatakan tragedi itu terjadi karena masalah politik semata, karena korban ketika itu ada banyak yang tidak mengenal politik.

Ketika tragedi 65 berlangsung, kakek saya telah memiliki 3 anak, yang tertua bapak saya dan 2 orang paman saya. Anak ketiga dari kakek saya, yang paling Nyoman, lebih dikenal dengan panggilan Gawat. Kenapa begitu, nama Gawat diambil sebagai penanda kelahirannya, dia baru beberapa bulan lahir ketika tragedi itu berlangsung.

Bisa saya bayangkan situasinya, memiliki anak yang masih kecil dan sedang dalam himpitan tragedi yang bisa saja menghilangkan nyawa jika lengah ketika itu. Atas dasar inilah saya mengerti bahwa ketika itu orang berbondong-bondong datang ke rumah seorang dukun. Iya, dukun. Dalam bahasa bali disebut dengan istilah Balian. Mungkin yang paling tepat menggambarkan kalimat itu adalah profesi yang dijalankan oleh Ki Joko Bodo atau Ki Kusumo di jaman sekarang ini. Seseorang yang mengklaim diri sebagai ahli spiritual. Tapi, di jaman dulu profesi mereka disebut dengan dukun atau Balian.

Dukun di jaman dulu bukan hanya terpatok pada ahli pengobatan atau spiritual, tapi juga ahli pada benda-benda gaib. Salah satunya adalah ahli kekebalan. Kekebalan yang dipercaya melalui perantara sebuah benda gaib yang dibuat oleh Balian tersebut.

Menurut cerita kakek saya, yang diberikan Balian tersebut adalah bungkusan dari kain putih. Entah apa isinya, tapi, katanya sih manjur. Buktinya, ketika itu, sebatang pohon pisang tidak mempan ketika ditebas dengan sebilah pedang. Pada pohon pisang tersebut digantungkan bungkusan tadi. Kawan kakek saya yang tidak mempercayai sepenuhnya justru ditebas langsung badannya oleh Balian tersebut, dan terbukti kebal.

Menurut cerita kakek saya, ada beberapa orang kawannya yang menjadi saksi dan pelaku uji kekebalan itu. Kebetulan, semuanya selamat dari peristiwa 65. Entah karena kekebalan itu, atau karena mereka memang bukanlah orang-orang yang ditargetkan untuk dibunuh ketika itu.

Saya katakan dibunuh, karena tidak ada proses pengadilan ketika itu. Setiap malam selalu ada orang-orang asing yang berkeliaran di desa saya. Orang asing yang saya maksud bukan bule tapi orang yang tidak dikenali, bukan penduduk desa saya maupun desa tetangga. Ketika orang-orang asing itu ada, maka keesokan harinya pastilah ada kepala yang tergeletak di pinggir jalan. Kalau tidak, ya cuma ada kabar kalau si A sudah mati, itu saja.

Menurut cerita, nggak ada upacara terhadap orang yang sudah mati ketika itu. Mayat mereka diperlakukan tidak selayaknya. Mayat mereka hanya dibiarkan tergeletak di setra, dan kalau sempat, dikuburkan secara massal di satu tempat. Itu kalau sempat, kalau nggak, ya dibiarkan tergeletak begitu saja, bahkan yang masih hidup, dijadikan mayat juga ketika itu.

Bukan hanya mayat dari desa saya, banyak juga mayat dari antah berantah, nggak ada orang yang tau. Ada seorang jagal yang terkenal dari desa saya yang bertugas ketika itu. Tapi, sayangnya, setelah peristiwa itu, sang jagal nggak bisa mempertahankan kewarasannya, bahkan hingga meninggal.

Untuk orang Bali sendiri, bahkan kebanyakan cara berpikir orang Bali, masih mempercayai bahwa ada hal-hal diluar nalar yang bisa dipercayai dan berlaku dalam keseharian mereka. Termasuk salah satunya adalah kekebalan itu. Selain itu ada batu, jimat, atau entah apalagi yang banyak beredar di masyarakat sekarang ini.

Mungkin saja ada yang benar-benar kebal, tapi kita tidak pernah tau siapa orangnya. Hal-hal semacam itu saya rasa tidak mudah juga didapat. Tidak semudah datang ke Balian dan langsung kebal. Tentunya juga tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Betapa banyak orang penting yang menginginkan benda itu untuk melindungi diri dari musuh-musuhnya, bukan?

Untuk logika sekarang ini, hal yang seperti ini rasanya tidak masuk akal. Kalaupun cerita itu benar, lalu kenapa ribuan bahkan ratusan ribu korban yang berjatuhan ketika itu? Bukankah dengan ilmu kebal ini seharusnya jumlah korban tidak sebanyak itu? Atau, mungkin saja para korban tidak mengetahui bahwa ada ilmu yang membuat orang bisa kebal dari senjata.

Banyak yang mejadikan cerita ini sebagai bahan tertawaan. Banyak pula yang bilang kalau apa yang dilakukan Balian itu hanyalah trik belaka. Karena, yang ditebaskan ke batang pisang atau badan orang itu adalah bagian punggung dari pedang tersebut, bukanlah bagian yang tajam. Karena, orang-orang yang ditebas tetap merasakan sakit karena benturan, tapi tidak meninggalkan luka. Tentu sakit yang dirasakan karena hantaman benda tumpul, bukan benda tajam.

Terlepas dari benar atau tidaknya bahwa ada orang yang kebal terhadap senjata. Saya melihat ini dari sudut yang berbeda. Bahwa setiap orang dalam keadaan terdesak dan ketakutan memerlukan sesuatu untuk mereka yakini agar bisa bertahan hidup. Untuk bisa yakin bahwa mereka memiliki harapan untuk hidup. Sesuatu itu bisa berwujud benda, atau apa saja.

Ketakutan bisa saja membawa orang pada pemikiran yang irasional, tapi, kalau kemudian itu bisa memberikan harapan hidup, kenapa tidak? Nggak semua orang punya kemampuan untuk menghadapi senjata, nggak semua orang juga punya keberanian untuk berkelahi dengan senjata. Tapi, keinginan yang kuat dari mereka untuk bertahan hidup dan melindungi keluarganya, bahkan dengan mempercayai ilmu kebalpun patut kita apresiasi, bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + fourteen =

Berjudi Itu Hiburan, Bukan Hal Lain

Berpikir Kreatif