in

Sapu Tangan

Sebuah sapu tangan yang masih terlihat baru tapi lusuh, eh gimana sih cara mendeskripsikan barang yang baru dan cuma dipakai sekali tapi masih disimpan selama 20 tahun lebih? dibilang usang, tidak. Dibilang baru juga tidak. Masih bagus tapi sudah agak lapuk. Mungkin itu deskripsi yang lebih tepat untuk menjelaskan keadaan sapu tangan itu.

Sapu tangan yang saya ingat pernah saya gunakan hanya sekali ketika SMP dulu. Bukan sapu tangan biasa, karena di dalam sapu tangan itu ada keringat seorang perempuan yang pertama kali saya sukai dulu. Anggaplah sapu tangan itu merekam keringat plus cerita dari apa yang saya alami ketika itu.

Yang saya ingat dari sapu tangan itu hanyalah satu kepingan cerita masa SMP. Masa dimana saya belum bisa mendeskripsikan dan bagaimana harus bersikap terhadap lawan jenis yang begitu menarik ketika itu. Saya tidak tahu kalau apa yang saya rasakan itu bisa dikatakan sebagai perasaan suka atau apa. Yang saya tahu hanya saya merasa aneh ketika berdekatan dengan perempuan itu. Hanya pada satu perempuan itu yang membuat saya begitu gugup dan gelagapan.

Tepatnya, perasaan aneh ini saya alami ketika kelas 3 SMP. Kawan saya yang lain sudah bisa mendefinisikan diri mereka sebagai pasangan, pacaran, dan entah sebutan apa lagi ketika itu. Maklum saja, saya bukanlah orang yang begitu mengerti tentang relasi dua orang ketika itu. Yang saya tahu hanyalah saya paling tidak berkawan dengan 3 orang, satu orang sebangku dan 2 orang di bangku depan saya. Hanya sebatas itu yang saya kenal, tidak sebanyak kawan saya lainnya yang memiliki kawan, bahkan hingga ke kakak dan adik kelas.

Radar dan data yang saya miliki tidak bisa digunakan mengidentifikasi perasaan aneh itu. Entah itu bisa disebut sebagai apa. Mirip seperti radar badan antariksa ketika mencoba mengidentifikasi UFO. Dinamakan UFO karena benda itu Unidentified. Jika benda itu bisa diidentifikasi tentu namanya berubah jadi IFO atau Identified Flying Object. Alhasil, karena saya tidak bisa mengidentifikasi perasaan itu, sayapun tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan perasaan yang sedemikan itu.

Yang saya tahu hanya ketika dia datang, seketika itu saya gugup, seketika itu saya berusaha untuk tidak terlihat gugup. Jika sekarang orang berjuang melawan lupa, saya dulu berjuang melawan gugup. Berusaha untuk bersikap wajar dalam kegugupan. Itu perlu energi untuk melawan yang sangat tinggi. Dan, semakin kuat kamu mencoba melawan kegugupan itu, semakin guguplah kamu terlihat di mata orang lain. Atau, paling tidak, kamu akan terlihat bertingkah semakin aneh. Beneran. Saya adalah saksi sekaligus korban dari keadaan itu.

Diantara perasaan aneh dan gugup dan gelagapan itulah sapu tangan itu mengambil peran. Saya tidak begitu ingat cerita detailnya, yang masih saya ingat adalah saya memberinya sapu tangan itu untuk mengusap keringat di dahinya ketika itu. Saya mencoba mengingat momen sebelum mengelap keringat itu terjadi, tapi sepertinya memori saya sudah menghapusnya. Yang tersisa hanyalah dia mengusap dahinya dengan sapu tangan itu. Sapu tangan saya yang ketika itu saya coba berikan untuk dia, tapi dia menolaknya. Jadilah sapu tangan itu masih terselip di salah satu bagian dalam sebuah kotak usang yang saya temukan saat ini.

Kotak usang yang nyempil diantara kotak-kotak lainnya dalam satu kotak besar. Kalaupun saya tidak membongkar kotak-kotak ini, mungkin sapu tangan itu tidak pernah saya ingat. Mungkin, sapu tangan itu hanya akan jadi bagian dari tumpukan sampah lainnya yang akan dibakar ketika waktunya tiba.

Mungkin ini yang disebut sebagian orang sebagai benda-benda kenangan. Kalau dihitung, sapu tangan itu sudah tidak berharga lagi, untuk digunakan juga sudah tidak bisa lagi. Tapi, sapu tangan itu mampu memberi saya cerita, mampu memberi saya ingatan akan apa yang terjadi di masa lalu. Saya rasa sebagian dari kita juga memiliki cerita yang sama dengan benda-benda yang ada disekitar kita. Benda yang menurut orang sudah tidak berharga lagi, tapi, bisakah menghitung harga untuk sebuah kenangan?

Susah rasanya untuk membuat orang mengerti tentang arti sebuah benda, atau setumpukan rongsokan yang ada di gudang. Mereka tidak mengerti kalau tiap-tiap benda, sekecil apapun, pernah ada dalam satu plot cerita di suatu waktu di masa lalu kita. Ketika benda tersebut kembali muncul di hadapan kita, disanalah cerita itu kembali muncul dalam kenangan kita. Layaknya sebuah CD atau DVD yang digunakan untuk merekam musik atau film. Begitulah adanya benda-benda tersebut. Memutar kembali cerita yang pernah menjadi bagian dari hidup kita. Cerita yang membetuk apa adanya kita sekarang ini.

Kita tidak pernah bisa memberi nilai pada satu benda karena kita tidak pernah benar-benar tahu cerita apa yang ada di balik benda tersebut. Tapi, yang pasti, setiap benda adalah kenangan untuk orang-orang dimana benda tersebut ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 8 =

Bertemu Di Perempatan

Sendiri