in ,

Sekolah Bukanlah Koentji

Saya pernah belajar bermain drum, iya, drum yang dimainkan anak band itu. Kalau nggak salah di tahun 2003-an. Tapi, hanya sebentar saja, kurang lebih hanya 1 bulan saja. Dengan 4 kali pertemuan ketika itu. Sebenarnya saya belum bisa-bisa amat bermain drum.

Jadi kalau ada yang mau menguji, saya kira saya menyerah duluan. Karena, saya memang belum bisa memainkannya secara fasih. Kalau hanya ketukan dasar saja sih saya masih bisa. Atau, kalau hanya bermain pengganti drum yang disebut Cajon itu, saya masih pede untuk memainkannya.

Saya belajar di Septime. Sebuah tempat les musik yang ada di Denpasar. Seingat saya, waktu itu ada sekitar 4 tempat les musik yaitu Farabi, Yamaha, Purwacaraka dan satu lagi Septime. Kebetulan waktu itu Septime menawarkan biaya belajar yang lebih murah dari tempat lainnya. Alasan biaya yang paling murah inilah yang membuat saya memilih belajar di Septime.

Saya sempat mencari tahu apa saja yang diajarkan di masing-masing tempat. Terutama perihal dasar-dasar bermain drum. Setelah bertanya sana-sini, saya menemukan kalau semua pelajaran dasar bermain drum sama saja.

Lalu, kenapa tiap-tiap tempat berbeda biayanya? Dugaan saya, karena tiap-tiap sekolah sudah lebih dahulu terkenal dan dianggap sebagai sekolah unggulan. Farabi lekat dengan Gilang Ramadhan, Purwacaraka tentu dikenal karena pemiliknya adalah Purwacaraka, seorang dirigen yang sering tampil di TV. Yamaha apalagi, tentu semua pemain musik mengenal merk ini.

Septime adalah satu-satunya tempat les yang tidak mengusung orang terkenal, atau merk terkenal. Kebetulan juga, Septime tidak begitu dikenal orang. Saya menemukan tempat ini dari internet ketika itu.

Septime adalah tempat les musik lawas. Dia ada sebelum tempat les musik lainnya. Tapi, sayang sekali, Septime tidak didukung oleh keterkenalan itu. Padahal, banyak musisi yang sudah dihasilkan tempat les ini. Beberapa anak yang belajar disini juga rutin ikut festival atau kompetisi musik.

Hal ini tidak hanya berlaku pada tempat les kecil seperti Septime. Tempat-tempat lain, bahkan institusi pendidikan resmi mulai dari SD hingga SMA, juga universitas terjadi hal yang sama. Semakin terkenal sebuah sekolah, semakin mahal pula biaya belajar di sekolah itu.

Apalagi ketika sekolah itu mendapat predikat sekolah unggulan. Sekolah yang seolah lebih unggul dari sekolah lainnya. Padahal, hanya segelintir siswa dari sekolah tersebut yang memiliki prestasi dalam bidang akademik tertentu. Saya kira keliru jika ini digeneralisir menjadi prestasi sekolah. Saya lebih setuju jika ini dikatakan sebagai kebetulan siswa yang memiliki kemampuan lebih bersekolah disana, itu saja.

Jika dihitung berdasarkan jumlah, siswa yang kurang berprestasi tidak kalah banyaknya jumlahnya. Hanya karena satu siswa berprestasi kemudian seluruh seluruh siswa menyandang label unggulan. Pengajarnya juga turut digaungkan sebagai pengajar unggulan. Seolah, prestasi yang dicapai siswa hanya disebabkan oleh sekolah dan gurunya semata. Padahal, peran utama dalam pencapaian tersebut adalah siswa itu sendiri. Tanpa siswa yang mumpuni, mustahil sekolah atau pengajar mampu mewujudkan prestasi itu.

Logika yang digunakan kebanyakan orang memahami sekolah adalah menggunakan analogi sekaleng cat. Apapun yang dicelupkan akan berubah sesuai dengan warna cat tersebut. Jika sekaleng cat berisi warna merah, maka apapun yang dicelupkan disana akan berubah warna menjadi merah. Begitu juga warna-warna yang lain.

Mereka mengira dengan menyekolahkan anak di sekolah unggulan, paling tidak anaknya akan turut menjadi siswa unggulan. Banyak orangtua yang mengamini hal ini. Bahkan rela melakukan apa saja hanya agar anaknya bisa bersekolah di sekolah unggulan itu.

Bukan karena pertimbangan anaknya memang layak bersekolah disana, tapi lebih kepada ego orangtua. Hanya karena mereka ingin anaknya dilabeli siswa sekolah unggulan.

Padahal, pendidikan itu sendiri tidak mengenal kata unggul secara menyeluruh. Maksudnya, tidak ada satu anakpun yang unggul dalam segala hal. Keunggulan anak satu tentu berbeda dengan anak lainnya.

Einstein, yang dinobatkan sebagai orang jenius sejagat raya itu, bilang “Everybody is a genius. But if you judge a fish by it’s ability to climb a tree it will live its whole life believing that it is stupid”. Artinya kurang lebih begini. Semua orang sebenarnya adalah orang yang jenius. Tapi, kalau kejeniusan itu diukur dari kemampuan ikan untuk memanjat, tentu ikan tersebut adalah makhluk yang bodoh.

Sah-sah saja jika ingin menyekolahkan anak di tempat yang dikatakan unggulan. Tapi, bukankah seharusnya orangtua mengukur kemampuan anaknya. Bukannya gimana, siswa yang nggak mampu mengikuti pelajaran umumnya dilabeli “bodoh”. Berat lho rasanya menanggung beban ketika dilabeli “bodoh”.

Nggak mudah untuk bisa menerima diri ketika kurang dari yang lain. Sulit untuk bisa baik-baik saja ketika kita merasa diri nggak normal seperti anak yang lain. Jarang orang tua mau mengerti tekanan seperti ini. Banyak dari mereka yang hanya mementingkan diri mereka sendiri tanpa mengukur kemampuan anak. Dan ini banyak terjadi.

Kecuali untuk mereka yang ingin serius dalam bidang akademik, saya rasa sekolah adalah tempat untuk bergembira. Bukan yang kebablasan juga, tapi, masih dalam koridor kewajaran.

Sekolah adalah Masa dimana seorang anak menjalani cerita bersama kawan-kawan mereka. Masa dimana kisah-kisah menyenangkan itu terjadi untuk diceritakan di kemudian hari. Bukankah kata orang masa yang paling indah adalah masa bersekolah?

Toh, semua orang harus melewati masa ini. Jadi, ketika bersekolah menjadi sebuah keharusan, kenapa tidak kita nikmati dengan gembira. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 1 =

Jadi Bodyguard

Pariwisata Bali Untuk Siapa?