in

Selamat Jalan Lord Didi

Saya berkenalan dengan lagu-lagunya Lord Didi Kempot ketika sempat hidup luntang-lantung di Jogja era 2008an lalu. Lagu pertama yang saya kenal berjudul Sewu Kuto. Kebetulan lagu ini dimainkan hampir setiap malam oleh kelompok pengamen di depan angkringan Terang Bulan. Oh iya, nama angkringannya sebenarnya saya nggak tau, cuma dikenal dengan angkringan Terang Bulan karena buka tepat di depan toko Terang Bulan jalan Malioboro.

Lagu ini sebenarnya hanya sebuah lagu request iseng, karena kebetulan saya dan pasangan saya ketika itu suka dengan melodinya. Kami nggak begitu paham liriknya karena berbahasa jawa dan kami belum paham sepenuhnya akan bahasa jawa. Semakin sering didengarkan, lagu ini semakin menempel di telinga dan cita rasa menyayat dari melodinya makin terasa. Akhirnya, sedikit demi sedikit kami berusaha mendengarkan dan mengerti liriknya. Sejak saat itu, lagu Sewu Kuto ini sah menjadi lagu wajib kami ketika menghabiskan malam minggu di angkringan Terang Bulan.

Tahun berlalu, saya kembali ke Bali. Beberapa kawan saya di Bali bisa dibilang penggemar dari Lord Didi. Bagaimana tidak, setiap kami mabuk, dia selalu meminta lagu-lagu Didi Kempot untuk diputarkan. Seperti halnya orang mabuk pada umumnya, kawan saya bernyanyi sepenuh hati seolah perasaannya terwakili oleh lagu-lagu itu.

Sepertinya memang sah kalau Lord Didi dinobatkan sebagai The Godfather of Broken Heart, karena sepengetahuan saya, nggak ada orang yang pernah patah hati yang nggak tau lagunya Lord Didi. Dan mereka yang pernah tersentuh oleh sayatan lirik dan melodi dari Lord Didi, nggak akan sanggup untuk hanya berdiam diri ketika lagu-lagunya diputarkan. Perasaan itu akan membuncah keluar menjadi emosi yang ikut mengalun seiring lirik yang dilantunkan.

Sebut saja lagu Sewu Kuto, siapa yang tidak tersayat dengan betapa dalam rasa cinta seseorang pada pasangannya yang justru meninggalkannya. Mereka yang pernah merasakan ditinggal ketika lagi sayang-sayangnya pasti tau rasa ini. Tak ayal, sering kali ketika mabuk dan lagu ini diputarkan, ada sebersit kenangan yang bangkit dan menyeruak keluar menjadi air mata yang tentu harus ditahan karena malu untuk dikeluarkan sepenuhnya.

Saya kembali teringat pada satu momen dimana saya dan seseorang terakhir kali berjoget bersama dalam iringan lagunya Lord Didi. Kebetulan kebersamaan itu adalah kebersamaan terakhir kami karena dia nggak kunjung datang kembali. Janjinya pergi hanya sebentar, tapi malah menjadi sangat lama dan kami berpisah hingga sekarang ini. Perpisahaan yang dipaksakan ketika lagi sayang-sayangnya. Persis seperti lagunya Lord Didi yang berjudul Banyu Langit. Lagu ini pernah saya putar seharian untuk mengobati rasa sakit hati ketika itu.

Saya harap dia yang ada disana ingat pada “Janjine lungane ra nganti suwe suwe, pamit esuk lungane ra nganti sore. Janjine lungo ra nganti semene suwene, nganti kapan tak enteni sak tekane”

Terima kasih Lord Didi atas karya yang sudah menemani kami orang-orang yang tersakiti karena cinta dan susah mengungkapkannya dalam kata-kata. Hanya lagu-lagumu yang mampu mengungkapkan rasa sakit yang kami alami. Lagu-lagumu akan terus hidup dalam hati kami. Selamat Jalan Lord Didi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × three =

Uang SPP Henny