in

Sendiri

Saya baru mengerti arti sendiri itu apa. Ini bukan perihal kesedihan atau kesenangan atau tertawa bersama seperti apa yang orang bilang. Sendiri itu artinya saat kamu perlu perspektif lain dari sebuah pemikiran dan tidak ada orang yang bisa diajak berbicara tentang itu.

Sendiri itu artinya, kebingunganmu harus kamu jawab dalam kesendirian. Dalam kesunyian. Ada goyah, ada kebimbangan, ada pertimbangan yang tidak seimbang. Pertimbangan yang memerlukan pengimbang tapi tidak kamu dapatkan, tidak ada yang bisa diajak bicara.

Banyak orang yang dengan mudah bicara soal cinta, with love atau apapun itu, semudah itu berbicara cinta, berbicara sayang, tapi tidak pernah mampu untuk menjadi partner, rekan berbicara yang baik. Tidak pernah bisa bahkan untuk sedikit meluangkan waktu untuk mendengarkan dan memberi perspektif lain dari kebimbanganmu yang ada saat ini.

Hidup ini bukan hanya sekedar kuat atau lemah. Hidup ini bukan hanya sekedar pintar atau bodoh, atau hal-hal yang banyak sekali dibicarakan orang. Hidup ini bukan pula sekedar berteman atau banyak memiliki teman. Hidup ini tentang perspektif. Hidup ini tentang berbicara berdua dan mempertimbangkan kebimbangan itu berdua. Saat pihak kedua itu tidak pernah mencoba untuk ada. Maka hidup itulah yang disebut dengan kesendirian.

Masalah memang tidak pernah rumit, masalah apapun memang tidak pernah sukar untuk diselesaikan. Tapi, setiap masalah memerlukan berbagai sudut pandang untuk bisa melihatnya lebih jelas, lebih bijak untuk memilih dan memutuskan. Ketika sudut pandang lain itu tidak ada, maka disitulah masalah terlihat rumit.

Kadang, ketika perspektif lainpun ada, disana dia tidak menawarkan apa-apa. Dia malah membawa kerumitan baru yang berdiri diatas kerumitan sebelumnya. Kerumitan yang sebenarnya tidak pernah dikehendaki ada tapi muncul karena pertimbanngan yang tidak kamu harapkan.

Berbicara didefinisikan sebagai mengeluarkan suara dari mulut. Bisa juga didefinisikan sebagai menyuarakan pikiran agar orang lain mengerti. Tapi, berbicara itu menjadi tanpa arti jika tidak ada yang mendengarkan. Jadi, sebenarnya, berbicara itu bisa bernilai jika ada yang mendengarkan. Tanpa ada yang mendengarkan, justru berbicara itu menjadi suara sumbang yang tidak sepatutnya ada.

Pemahaman ini sebenarnya mengantarkan kita pada satu definisi yang lebih penting. Berbicara adalah menyuarakan pikiran yang dianggap bernilai oleh orang lain. Tiada berbicara tanpa pendengar. Berbicara butuh pendengar agar memiliki nilai. Tanpa itu, berbicara hanya akan jadi suara tanpa nilai. Satu-satunya cara menghargai orang yang berbicara adalah dengan mendengarkan. Apapun itu, kita dengarkan saja. Bernilai atau tidaknya pembicaran itu bagi kita, itu urusan kedua. Yang pertama adalah memberi harga pada yang berbicara. Itu yang lebih penting.

Menjadi sendiri terlihat sebagai menjadi yang ingin berbicara tapi tidak ada pendengar. Semua terbatas pada hanya ingin, tanpa bisa mewujudkannya menjadi suara, tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ini. Jangankan untuk bertukar perspektif, mengeluarkan katapun menjadi terlalu berat. Karena, manusia yang mengeluarkan kata tanpa ada pendengar adalah manusia yang terganggu jiwanya.

Kita tidak sedang ingin membenarkan stigma, tapi kita sedang berusaha menghindari label, karena kita sendiri mengakui bahwa stigma itu benar. Padahal tidak.

Menjadi sendiri bukan hanya soal berbicara, melainkan mengenai perspektif, pertimbangan akan sebuah masalah. Kita bisa saja dikatakan sendiri ketika berkutat dengan pikiran kita, bertanya sendiri dan menjawab sendiri. Tapi, ketika pikiran itu tidak menelurkan jawaban atas apa yang kita tanyakan, tentu kita perlu jawaban itu dari pihak lain. Ketika jawaban dari pihak lain ini tiada, disanalah kita benar-benar dikatakan sendiri. Sepi dalam kesepian. Sepi dalam pemikiran.

Tidak mudah untuk berjalan dalam sunyi seperti yang dikatakan banyak orang. Tidak mudah pula berbicara dengan hanya diri sendiri, karena sendiri itu memerlukan kepustakaan pikiran yang sangat luas. Nalar kritis tidak berjalan ketika pilihan-pilihan perspektif itu tiada. Kepustakaan pemikiran itu diperlukan sebagai perspektif, sebagai pilihan. Nalar kritis berfungsi untuk menguji setiap pilihan itu. Solusi hanyalah output dari perspektif dan nalar kritis itu. Ketika perspektifnya tepat, nalar kritis pengujinya juga tepat, disanalah solusi yang dihasilkan dikatakan tepat.

Tapi, apakah mungkin semua solusi itu dihasilkan dalam kesendirian? Mungkin saja, tapi, sebagian besar dari kita dibentuk untuk tidak bisa sendiri, dibentuk untuk rapuh dalam kesendirian. Kita dilekatkan pada hidup bersosial, hidup saling memerlukan satu sama lain, hingga kita lupa bahwa pada titik terendah dalam hidupmu kamu akan berjalan sendiri, dalam sunyi, dalam sepi, dimana hanya ada kamu dan pikiranmu yang sedang buntu itu. Dimana hanya ada kamu dan dirimu yang kamu benci itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 − 2 =

Sapu Tangan

Perubahan