in

SMS Nyasar

Luh Kerni sedang kesepian. Dia ditinggal oleh suaminya bekerja di Kapal Pesiar. Sudah 3 bulan lamanya suaminya berlayar dan hanya memberinya sentuhan jarak jauh melalui panggilan video.

Mirip seperti anak muda yang lagi LDR, mereka hanya bisa terhubung lewat panggilan video, itupun ketika suaminya memiliki waktu luang. Mereka biasanya terhubung 2 minggu sekali. Bahkan, kalau sedang sibuk-sibuknya, mereka hanya bisa terhubung 1 bulan sekali.

Kenyataan ini membuat Luh Kerni seperti seorang janda bersuami. Setidaknya begitulah dia mengistilahkan dirinya. Memiliki suami, tapi nggak bisa memberinya kehangatan yang dia perlukan.

Wajar saja, Luh Kerni memang tidak pernah kekurangan kehangatan suaminya sebelumnya. Bahkan, menurut desas-desus tetangga, mereka sayup-sayup mendengar suara rintihan Luh Kerni tiap malam.

Saya ibaratkan Luh Kerni seperti seperti seorang pecandu yang kehilangan candunya. Luh Kerni seperti sedang sakau akan kehangatan suaminya. Hal yang selama ini selalu dia dapatkan setiap malam kini harus dia tahan selama 3 bulan lamanya.

Memang harus demikian adanya. Keadaan ekonomi keluarga yang makin sulit memaksa suami Luh Kerni bekerja di kapal pesiar. Pekerjaan sebelumnya belumlah mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, mengingat anak-anak mereka sudah mulai memasuki usia sekolah dan membutuhkan biaya.

Sudah 2 minggu lamanya Luh Kerni berjuang menahan hasratnya. Untuk mengalihkan perhatiannya, Luh Kerni menyibukkan diri dengan berjualan kelapa butiran. Paling tidak, kalau tenaganya sudah terkuras, maka hasratnyapun akan berkurang. Setidaknya itulah cara terbaik yang dia pikirkan.

Setiap pagi Luh Kerni mengelilingi desanya dan beberapa desa tetangga untuk mencari orang-orang yang memiliki pohon kelapa. Nggak jarang juga Luh Kerni keluar kecamatan kalau ada penjual kelapa yang menghubunginya.

Kelapa-kelapa ini kemudian dikumpulkan dan dibawa untuk dijual ke pasar yang ada di kota. Beberapa ada yang dikupas untuk bahan pembuatan upakara.

Biasanya Luh Kerni membawa kelapanya ke pedagang di pasar. Istilahnya sih ngedrop barang ke pedagang yang merupakan langganannya. Khusus untuk bahan upakara, biasanya Luh Kerni hanya menyediakan sesuai pesanan.

Kesibukan ini memang menguras waktu dan tenaga Luh Kerni hingga dia nggak sempat lagi memikirkan hasratnya. Bahkan, untuk berhasratpun Luh Kerni sudah tidak sanggup.

Hari itu, supir langganan Luh Kerni untuk mengantarkan kelapa berhalangan. Karena belum mendapatkan supir pengganti, Luh Kerni akhirnya meminta bantuan De Poyok yang juga tetangga dari Luh Kerni. Rumahnya tepat disebelah rumah Luh Kerni.

Sebagai tetangga yang baik, tentu De Poyok membantu. Memang begitulah adat di desa. Kalau tetangga meminta bantuan, sesibuk apapun paling nggak harus diusahakan untuk membantu. Dengan harapan, ketika nanti kesulitan akan diperlakukan sama oleh tetangga.

Hubungan Luh Kerni dan De Poyok memang cukup baik. Luh Kerni sendiri adalah kawan baik dari istrinya De Poyok, dan De Poyok juga kawan baik dari suaminya Luh Kerni. Hubungan antar keluarga merekapun terbilang cukup baik. Mereka memang sering saling membantu satu sama lain.

Hubungan Luh Kerni dan De Poyok menjadi lebih dari sekedar tetangga dimulai dari salah kirim pesan singkat. Pesan yang ditujukan De Poyok pada selingkuhannya, malah nyasar ke Luh Kerni. Tentu isi pesannya adalah sebuah ajakan untuk bertemu di sebuah penginapan.

De Poyok terkejut ketika Luh Kerni malah mengiyakan ajakan yang dikirimnya melalui pesan nyasar tersebut.

Hubungan Luh Kerni dan De Poyok seperti obat bagi sakau yang mereka alami. Luh Kerni merasa nggak harus jauh mencari kehangatan pengganti suaminya. De Poyok juga seperti dipermudah karena nggak harus mencari berbagai alasan untuk mengelabui istrinya untuk berselingkuh.

Terlebih, Luh Kerni dan De Poyok adalah tetangga, dimana mereka sama-sama saling mengerti kalau mereka berdua telah memiliki keluarga. Jadi, mereka nggak mungkin akan saling menghancurkan keluarga masing-masing dengan saling membocorkan perselingkuhan itu.

Hubungan Luh Kerni dan De Poyok seperti layaknya suami-istri. Bahkan lebih. Karena, sebagian besar waktu mereka habiskan berdua melebihi waktu untuk pasangan mereka masing-masing.

Bagaimana tidak, De Poyok sekarang sudah menjadi supir tetap bagi usaha kelapanya Luh Kerni. Setiap hari mereka berdua. Mulai dari mencari kelapa hingga mengantarkan ke pelanggannya. Di sela-sela waktu mengantar kelapa inilah Luh Kerni dan De Poyok memadu kasih.

Meski Kadang, kalau keadaan nggak memungkinkan. Mereka bisa berhubungan di dalam truk. Terutama ketika kebetulan suami Luh Kerni berada dirumah. Nggak memungkinkan bagi mereka menyewa penginapan. De Poyok hanya perlu meminggirkan truknya, kemudian bercinta dengan Luh Kerni di dalam truk.

Sudah 1 tahun lebih hubungan cinta Luh Kerni dan De Poyok ini berlangsung. Bersih dan rapi. Tanpa menggangu keluarga mereka masing-masing. Tanpa pula mengurangi kewajiban mereka terhadap pasangan masing-masing.

Hingga saat ini, hubungan Luh Kerni dan De Poyok masih berlangsung. Bukannya tanpa kebocoran, beberapa teman dekat De Poyok sudah mengetahui hubungan rahasia mereka. Hanya saja, teman dekatnya lebih memilih untuk mendiamkan, toh De Poyok dan Luh Kerni sudah sama-sama dewasa, dan sudah tau konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen + 8 =

Pemburu ABG

Jaja Lukis