in

Takut Sekolah

Sekolah, mungkin hal yang paling membosankan untuk anak-anak. Terutama untuk saya yang ketika itu berusia 5 tahun dan sedang senang-senangnya bermain. Tapi, orangtua saya memaksakan kehendaknya untuk membuat saya pintar dengan bersekolah.

Saya ingat ketika itu saya dipaksa untuk bangun pagi, mandi, berseragam dan berjalan kaki menuju sekolah yang kira-kira 20 menit jaraknya dari tempat tinggal saya. Eh, kisaran tahun 88-89 itu, hampir semua anak berjalan kaki. Sepeda jarang adanya, apalagi motor atau mobil, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki.

Menurut cerita ibu saya, dulu ketika di taman kanak-kanak (TK) saya tergolong anak penakut. Setiap masuk kelas, yang saya lihat bukan guru yang mengajar atau kawan-kawan. Mata saya lebih sering tertuju pada jendela dan pintu untuk memastikan ibu saya masih berada disana.

Bukan sekali dua kali ibu saya mencoba meninggalkan saya sendiri di sekolah. Bukan sekali dua kali juga saya sampai di rumah nggak beberapa saat setelahnya karena ketika ibu pulang, sayapun menyusul pulang.

Saya memiliki ketakutan tersendiri untuk berada satu ruangan dengan orang-orang yang tidak saya kenal. Dan saya juga punya kesulitan untuk memulai berkenalan dengan orang baru. Dan ini tidak dimengerti oleh ibu saya dan orang tua lain pada umumnya. Saya mengalami ini hingga kini. Entah apa sebabnya.

Jaman TK dulu, sebutan anak pintar bukanlah anak yang pintar membaca atau berhitung. Masalah berhitung dari 1 sampai 100 bukanlah ukuran kepintaran. Masalah matematika dasar seperti penambahan, pengurangan, bahkan perkalian nggak lagi jadi ukuran kepintaran. Anak pintar adalah anak yang berani untuk ditinggalkan orang tuanya selama bersekolah dan hanya di jemput ketika pulang sekolah.

Saya mulai bisa bersekolah sendiri, dalam arti tidak diantar ke sekolah, apalagi ditunggui, mulai ketika duduk di bangku TK nol besar. Seingat saya, waktu itu saya melawan ketakutan saya untuk ditinggal sendiri di sekolah dengan ketakutan untuk dikatakan pengecut. Karena, di antara kawan-kawan saya berlaku label pengecut bagi siapapun yang masih ditunggui orang tuanya saat TK nol besar.

Meski nggak terlalu hafal jalan sekolah, ketakutan atas label pengecut itu menghasilkan kenekatan. Saya nekat bersekolah sendiri. Dan, hasilnya sudah bisa ditebak. Saya pulang cepat. Karena, saya sama sekali nggak sampai di sekolah. Kawan bapak saya menemukan saya clingak-clinguk tersesat kemudian mengantarkan saya pulang ke rumah.

Mengetahui hal ini, ibu saya kemudian mencari cara agar saya bisa bersekolah sendiri. Caranya tentu sangat sederhana, yaitu dengan membiarkan saya berjalan sendiri di depan, dan ibu saya mengikuti dari belakang. Setiap saya bingung jalan mana yang harus saya lalui, saya selalu menoleh ke belakang, dan ibu saya akan memberikan petunjuk kiri, kanan atau lurus. Hanya sekali ibu saya memberikan petunjuk, hari-hari berikutnya saya sudah bisa berangkat sekolah sendiri.

Hari-hari dimana saya berjalan sekolah sendiri, saya menemukan banyak hal. Mulai dari kebebasan untuk mampir dimanapun sepulang sekolah hingga mengiyakan banyak ajakan kawan-kawan saya. Tentunya, semua kegiatan tadi saya lakukan tanpa perlu mendengar larangan ini dan itu dari ibu saya. Saya merasa bebas melakukan hal apapun yang saya mau.

Saya akhirnya lupa akan ketakutan-ketakutan yang saya rasakan atas sekolah. Saya bahkan tidak merasa takut untuk bersekolah. Saya merasa berangkat sekolah lebih menyenangkan karena ada banyak hal yang mungkin ditawarkan oleh kawan-kawan saya sepulang sekolah. Eh, yang menyenangkan bukan sekolahnya, tapi kegiatan sepulang sekolahnya.

Mengingat kejadian ini, saya belajar, ternyata untuk mengatasi ketakutan bisa dengan ketakutan yang lebih besar atau bisa pula dengan cara yang lebih menyenangkan, seperti kegiatan-kegiatan menggembirakan sepulang sekolah, misalnya. Atau, kegiatan lain, apapun itu yang menyenangkan.

Saya sering melewati banyak hal yang tidak menyenangkan dengan cara seperti ini. Dengan cara membayangkan hal-hal yang menyenangkan setelah semua hal-hal tidak menyenangkan itu terlewati.

Beberapa orang memberi tahu saya kalau hidup lebih baik jika kita bisa membuat yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan. Saya masih belum bisa, masih perlu belajar untuk menyenangi banyak hal. Terutama hal-hal yang tidak menyenangkan itu. Mungkin, suatu hari nanti saya bisa, tapi hingga saat ini, saya belum tahu caranya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − fifteen =

Yang Waras Ngalah

Menanam Jagung