in

Theist dan Atheist

“Apa beda antara seorang Theist dan Atheist?” Tanya Pak Yan Bracuk pada Pak De Dimpil.
“Mangkin dumun Pak Yan, napi nika Theist dan napi nika Atheist?” Tanya Pak De Dimpil, karena dia nggak begitu paham arti kedua kata tersebut.

Sambil mengambil sikap duduk bersahaja yang sempurna, Pak Yan Bracuk menjelaskan. Theist adalah orang yang mempercayai keberadaan Tuhan. Pahamnya dinamakan Theisme. Bentuk-bentuknya adalah agama atau keyakinan yang ada di sekitar kita. Intinya, setiap orang yang percaya akan keberadaan Tuhan adalah seorang Theist. Sedangkan Atheist adalah kebalikannya. Orang-orang yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Pahamnya disebut Atheisme. Kebanyakan, seorang Atheist melandaskan kepercayaannya pada sains atau hal-hal yang bisa dibuktinya dengan logika.

“Suba ngerti Pak De?” Tanya Pak Yan Bracuk.
“Sampun Pak Yan. Nyata sekali bedanya nika. Yang satu ngelah Tuhan, yang lainnya sing ngelah Tuhan” Begitu jawab Pak Made mengulang penjelasan dari Pak Yan Bracuk.

Kembali Pak Yan Bracuk membenarkan posisi duduknya. Kali ini sambil menyalakan sebatang rokok kemudian memanggil Men Kempli, si pemilik warung.

“Kopi sik luh, kopi Bali, gulane bedik dogen” Kata Pak Yan Bracuk.
“Sing ada kopi, terus ngutang dogen, sing ngelah pembelin kopi dagange” Sahut Men Kempli setengah sinis.
“Beh, de anake keto luh, jani kar bayah total onyang utangane, cash” Sahut Pak Yan.
“Nah, yening mebayah jeg langsung ada kopi” Begitu jawab Men Kempli setengah nyengir sambil berharap kali ini Pak Yan Bracuk membayar seluruh hutangnya yang berjumlah 48 ribu itu.

Tidak lebih dair 5 menit, datanglah kopi yang dibawakan oleh Men Kempli. Tanpa berpikir panjang, Pak Yan Bracuk langsung mengeluarkan uang lembaran 50 ribuan untuk melunasi hutangnya yang 48 ribu ditambah dengan kopi yang baru dipesannya seharga 2 ribu. Wajah Men Kempli-pun terlihat sedikit sumringah dengan sebersit senyum yang menyembul dari bibirnya.

“Lalu, apa sane patuh antara Theist dan Atheist?” Kembali Pak Yan Bracuk mengajukan pertanyaan pada Pak De Dimpil.
“Suba karuan melenan, masak bisa ada persamaan, uling dija tekane?” Sahut Pak De Dimpil.
“Beh, Pak De, nu dogen berpikir hitam putih keto. Nak boya ja melenan onyangan Pak De. Nah, pang sing dawa satwane, orahin men” Jawab Pak Yan Bracuk.

Theist dan Atheist memiliki satu persamaan. Keduanya sama-sama mengenal Tuhan. Hanya saja, wujudnya yang berbeda. Seorang theist mengenal Tuhan dalam sifatnya yang maha ada. Bisa juga dikatakan, seorang Theist mengenal Tuhan dalam keberadaan. Logika yang digunakan adalah logika angin. Tidak ada satu manusiapun yang bisa menggambarkan wujud angin. Tapi, hampir semua manusia bisa merasakan keberadaannya. Hanya karena angin tidak dapat dilihat dan digambarkan wujudnya, bukan berarti angin itu tidak ada. Angin itu ada dan mempengaruhi kehidupan alam semesta.

Sedangkan, seorang Atheist mengenal Tuhan dalam sifatnya yang maha tiada. Mungkin bisa saya sebut dengan seorang Atheist mengenal Tuhan dalam ketiadaannya. Tiada dalam artinya bukanlah tidak ada sama sekali. Tiada dalam pengertian yang lain. Dalam pengertian bahwa segala sesuatunya mestilah masuk akal. Tidak mengada-ada dan tidak berbau tahayul. Paling tidak, ada sains yang menguji dan membuktikan.

Misalnya begini, sebut saja perihal terciptanya alam semesta. Seorang Atheist tidak serta merta percaya bahwa semesta diciptakan melalui proses instan seperti yang dituliskan pada banyak kitab suci. Mereka percaya bahwa alam semesta ini tercipta melalui sebuah proses ilmiah. Seperti setiap proses ilmiah lainnya, ada teori yang bisa menjelaskan ini. Teori yang paling populer adalah Big Bang Theory atau teori ledakan besar.

Teori ini menjelaskan bahwa alam semesta dimulai dari singularitas kecil lalu meningkat selama 138 milyar tahun hingga terciptanya kosmos yang ada sekarang ini. Teori ini dipercaya oleh banyak ilmuwan sebagai penjelasan terciptanya alam semesta. Teori ini juga yang digunakan oleh seorang Atheist untuk menjelaskan bahwa semesta tercipta melaui proses ilmiah bukan melalui proses tahayul yang banyak dipercaya oleh banyak agama.

Padahal, kalau kita mau sedikit lebih kritis. Belum ada yang bisa membuktikan mana yang benar tentang proses terciptanya semesta. Tidak dengan apa yang tertulis oleh kitab suci, tidak pula dengan teori Big Bang yang populer itu. Keduanya sama-sama belum bisa dibuktikan kebenarannya oleh alat ataupun kemampuan manusia yang ada sekarang ini. Mungkin di kemudian hari akan bisa dibuktikan, mungkin.

Baik Theist maupun Atheist mendasarkan keyakinannya bukan pada bukti atas hal ini. Mereka mendasarkan pada mana yang diyakini. Ujungnya tetap saja, keyakinan itu sendiri. Apa yang dipersepsikan sebagai kebenaran sebenarnya adalah apa yang mereka yakini sebagai yang benar. Bukan kebenaran itu sendiri.

Seperti halnya angin tadi, apakah ketika kita percaya angin akan berubah? Tentu tidak. Apakah juga dengan kita tidak mempercayainya angin akan berubah? Tentu juga tidak. Angin akan tetap jadi angin dan menjalankan fungsinya sebagai angin. Tidak lantas semua berubah hanya karena kita meyakini atau tidak. Bisa juga angin tidak pernah ada di kehidupan masyarakat barat, karena disana yang ada hanyalah wind atau air. Mereka meyakini kata itu sebagai sebutan atas apa yang kita sebut sebagai angin. Begitu pula dengan Tuhan. Tidak lantas semua berubah hanya karena kita meyakini atau tidak. Tidak lantas semua berubah hanya karena kita menyebutnya dengan nama berbeda.

“Mih… sakit sirahe ningehang Pak Yan ngomong, nok” Celetuk Pak De Dimpil sambil garuk-garuk kepala.
“Tonden pragat Pak De, nu ada sambungane” Sahut Pak Yan Bracuk.

Lebih jauh lagi, menurut Pak Yan Bracuk, seorang Theist dan Atheist hanya berbeda pada tataran agama. Bukan pada Tuhan. Mungkin karena Theisme itu sendiri lebih banyak dikenal pada orang-orang beragama. Padahal, Theisme lebih luas dari itu. Theisme terlalu sempit jika hanya dibatasi pada tataran agama.

Relasi yang paling masuk akal yang terjalin antara Theist dan Atheist adalah saling melengkapi satu sama lain. Tiada Atheist tanpa Theist, begitu juga sebaliknya. Seberapa bertentanganpun mereka, tidak bisa dipungkiri kalau mereka saling melengkapi. Bahkan, jika ditelusuri lebih jauh, kedua ajaran tersebut bersumber pada ajaran yang sama, yaitu ajaran keTuhanan.

Atheisme hadir sebagai koreksi atas prilaku seorang Theist yang berlebihan. Sebagai koreksi atas prilaku Theist yang semakin hari semakin tidak terkendali dan jauh dari Theisme yang sebenarnya. Coba saja perhatikan prilaku dari seorang yang mendaku percaya pada Tuhan belakangan ini. Banyak yang justru percaya pada hal-hal tahayul yang mereka sebut sebagai bagian dari ajaran keTuhanan. Nggak kalah banyak pula seorang Theist mendaku paling benar dan paling kenal atas Tuhan, padahal yah begitulah.

“Kene dogen nah, men kesimpulane Tuhan to apa? Uling tunian Pak Yan ngorta, makin dingehang makin bingung baane, puk” Kata Pak De Dimpil sekaligus memotong pembicaran Pak Yan Bracuk. Semakin lama dia semakin bingung dengan semua penjelasan Pak Yan Bracuk. Terlihat juga bahunya penuh dengan ketombe dan uban yang rontok karena sedari tadi dia terus menggaruk kepalanya.

Percaya atau tidak, Tuhan itu adalah segala isi semesta. Beliau adalah awal dan akhir, Beliau adalah segala pengetahuan, Beliau adalah segala yang ada, Beliau adalah segala yang tiada, Beliau adalah isi, Beliau adalah kosong, dan banyak lagi. Manusia menyebutNya dengan berbagai macam nama. Ada ribuan bahkan jutaan nama Tuhan yang di yakini oleh manusia. Ada banyak perlakuan atas Beliau. Ada yang memujaNya, ada yang meminta padaNya, ada yang mengadu padaNya, dan ada banyak perlakuan lain yang dilakukan oleh manusia atas keagunganNya. Beliau juga adalah maha segala maha.

“Nah yen keto undukne, berarti Tuhan to sing nyidang baan mikirin suba, belah asane gidate yan mikirin soal Tuhan. Sing teked baan tiang ngenehang” Potong Pak De Dimpil.
“Nah, kira-kira keto je asane” Jawab Pak Yan Bracuk.
“Yen suba sing nyidang mikirin, kar ngudiang to buin pikirin? Ngae ruwet dogen mikirin ane keto. Kanggoang jalani apa ane ada dogen. Kene iraga ajahine ajak leluhur iragane, kanggoang kene dogen ane jalanin. Diastun iraga kar ngerubah, tonden karuan masih nyidang luwungan teken ane ada jani”. Kata Pak De Dimpil sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Kar kija ne Pak De?” Tanya Pak Yan Bracuk.
“Kar mulih, suba tengai, kar ngateh memene ke meli kebaya” Jawab Pak De Dimpil lantas beranjak pergi.

“Pak De… Pak De… Kopi ajak godoh onden mebayah” Panggil Men Kempli.
“To Pak Yan Bracuk ne mayah” Jawab Pak De Dimpil sembari menjauh.

“Beh, mara lunas utange, jani buin ada utang” Celetuk Pak Yan Bracuk menggerutu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 − one =

Arak yang Istimewa

Multilevel Marketing