in ,

Tolol Tingkat Dewa

Kalimat “tolol tingkat dewa” mungkin adalah kalimat yang layak dinobatkan sebagai Kalimat of the Year 2018. Bagaimana tidak, kalimat ini menjadi kalimat terbanyak yang dituliskan masyarakat jagat maya. Setidaknya itu menurut pengamatan saya.

Kalimat ini juga sukses mengantarkan banyak penduduk jagat maya menuju kecerdasan yang hakiki. Atau Paling tidak merasa cerdas secara hakiki dalam sekejap. Hanya dengan menuliskan kalimat ini sebagai jawaban atas sebuah komentar, seketika kecerdasannya akan meningkat secara signifikan.

Apalagi ketika menggunakan kalimat ini sebagai keterangan atas suatu peristiwa. Secara otomatis pemberi keterangan mengalami luapan kecerdasan yang tiada terkira. Kalau saja kecerdasan ada overdosisnya, maka bisa dipastikan otaknya akan meleleh karena overdosis.

Tapi, ada tapinya. Di tangan masyarakat jagat maya, kalimat “tolol tingkat dewa” ini malah menjadi cermin dari siapapun penulisnya. Kalimat ini malah lebih sering mendeskripsikan penulisnya. Eh, di tulisan ini ada kalimat itu juga, ya? Berarti mendeskripsikan penulisnya juga, ya? haha.

Nah, itu tuh yang sebenarnya jadi tujuan dari beredarnya kalimat ini di jagat maya. Sebagai sampah yang dikeluarkan oleh sampah lainnya. Bisa juga dikatakan sebagai identifikasi atas sampah diantara sampah lainnya. Karena, sejatinya, kalimat ini adalah kalimat sampah.

Nggak ada yang berhak mengatakan satu hal atau satu kejadian itu sebagai sebuah ketololan hanya karena berbeda dengan apa yang mereka pahami. Malah, orang-orang yang berkata tolol akan terlihat semakin tolol ketika tau apa yang mereka pahami itu keliru.

Tapi, ya gitu, sampah nggak ada yang keliru, yang keliru ya pembuat sampahnya. Makanya ketika diceritakan keadaan yang sebenarnya mereka akan membalas dengan kalimat “tolol tingkat dewa” ini sebagai kalimat pamungkas.

Tujuannya nggak lain dari menutupi kemaluannya karena ketahuan komentar tanpa tau duduk perkara sebenarnya. Mereka asal ngetik tanpa mencoba memahami apa yang terjadi. Mereka asal nyampah dan merasa sok tau atas apapun hanya karena ngerasa pengikutnya banyak.

Eh, tapi, dari dulu memang begitulah jagat maya. Dimana orang merasa jadi yang maha benar hanya karena followernya banyak. Dan, yang lebih tolol lagi, banyak yang seturut dengan yang orang-orang tersebut dan mendaku sebagai pengikut.

Jadi, untuk orang-orang yang masih ngerasa mampu mengendalikan jempolnya, tetaplah kendalikan jempol itu. Karena tahun-tahun kedepan ini akan semakin banyak ketololan demi ketololan yang akan muncul karena wabah yang disebarkan oleh sang maha benar dengan follower banyak tadi.

Perjalanan untuk membersihkan jagat maya dari orang-orang tolol rasanya akan sangat panjang dan berliku. Karena seperti pepatah mengatakan bahwa ketololan itu beranak pinak. Kecuali ada yang memutus perkembangbiakannya.

Caranya sangat sederhana, cuma dengan menyudahi mendewakan mereka dan mulai bertanggung jawab atas apa yang kita percayai. Mulai deh gerakkan jempolnya untuk mencari tau lebih banyak sebelum mempercayai apapun yang ada di internet.

Bukannya lebih baik kata yang diketikkan di kolom komentar itu dipindah ke kolom pencarian google, ya. Selain tau lebih banyak, juga bisa lebih yakin karena sumber atau refrensi atas suatu kejadian lebih banyak.

Tapi, eh tapi, terserah juga sih. Karena semua memang berhak atas apa yang mereka percayai. Mau percaya pada hal-hal tolol juga sebenarnya adalah hak yang nggak bisa diganggu gugat. Mau apapun juga sebenarnya hak masing-masing. Termasuk untuk membaca dan menghabiskan waktu karena membaca tulisan ini juga hak.

Tapi, kalau bisa, sih, sebaiknya gunakan waktu untuk hal-hal yang berguna, contohnya ngajak pacar jalan saat malam tahun baru sambil liat kembang api daripada cuma scroll-scroll di sosmed, apalagi baca tulisan ini. duhh…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 − one =

Majalah Porno

Naik Angkot ke Singapura