in ,

Tutorial Bermimpi

Kawan saya bertanya tentang mimpi saya yang belum tercapai. Saya menjawab “Keliling Indonesia.” Eh, bukan berkeliling untuk berwisata, tapi mampir ke setiap tempat di Indonesia kemudian mendengar cerita-cerita yang menghidupi warga di tempat yang saya kunjungi.

Kawan saya terdiam sejenak kemudian menceritakan sebuah analogi tentang bermimpi. Bahwa bermimpi seharusnya sesuatu yang hampir tidak mungkin saya capai karena dengan begitu saya akan termotivasi untuk berbuat lebih baik terus menerus.

Menggapai mimpi seharusnya menjadi perjalanan tak berujung. Saya seharusnya bermimpi segala sesuatu yang lebih besar daripada sekedar keliling Indonesia. Dengan begitu orang bisa tahu seberapa besar saya dan apa yang akan saya gapai nantinya.

Giliran saya yang terdiam. Karena, saya sama sekali nggak membayangkan akan keliling dunia. Untuk apa? Saya sama sekali nggak tertarik untuk bercengkrama dengan orang Perancis seperti saya tertarik untuk bercengkrama dengan orang di Papua atau Pulau Komodo. Saya juga nggak mengerti bahasa Perancis ataupun bahasa lainnya di dunia, bagaimana saya bisa mendengar cerita-cerita mereka?

Kadang orang mematok mimpi pada gagasan-gagasan besar yang bahkan mereka sendiri nggak tahu cara menggapainya. Lebih aneh lagi, mereka nggak tau yang mereka jadikan impian itu benar-benar apa yang mereka inginkan.

Apa guna sebuah mimpi kalau bukan hal yang benar-benar diinginkan?

Mungkin, ini mungkin lho ya, kebanyakan orang melihat mimpi sebagai sesuatu yang di awang-awang. Sedangkan saya melihat mimpi sebagai cita-cita. Sebagai sebuah keinginan yang nggak bisa saya wujudkan dalam waktu singkat, melainkan melalui proses dan perjalanan panjang hingga tercapai nantinya.

Nggak masalah untuk memimpikan hal-hal besar selama tahu cara menggapainya. Yang percaya pada 10X rulesnya Grant Cardone, silahkan saja. Tapi, yakinlah, kalau berusaha dengan keras untuk mengejar hal yang sebenarnya nggak diinginkan itu sama seperti mengejar angin. Hasilnya cuma lelah tanpa hasil apa-apa.

Sederhananya, saya mengejar apa yang benar-benar saya inginkan. Satu hal dalam satu waktu. Jika mimpi berkeliling Indonesia sudah tercapai, saya akan memimpikan hal lain lagi. Begitu terus hingga suatu saat nanti saya sudah tidak memimpikan apa-apa lagi.

Nggak ada mimpi yang terbaik atau terburuk. Setiap orang punya mimpinya masing-masing. Bahkan, bermimpi berfoto di depan menara Eifel di Paris untuk konten Instagram-pun sah-sah saja selama memang benar-benar diinginkan dan dibarengi dengan tahu cara untuk mewujudkannya.

Yang menyedihkan adalah bermimpi hal-hal besar hanya agar terlihat besar tanpa benar-benar menginginkannya. Yang ada, perjalanan jadi hampa, tanpa nyawa, tanpa denyut kebahagiaan yang menyertainya.

Saya rasa, setiap orang memiliki mimpinya sendiri dan nggak ada seorangpun yang berhak mengatur mimpi masing-masing orang. Mimpi layaknya cita-cita yang harus diperjuangkan. Dan perjalanan untuk menggapai mimpi itu adalah perjalanan yang paling membahagiakan. Jadi bermimpilah, dan berjalanlah untuk mewujudkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + 3 =

14 Jam Denpasar-Malang

Hidup Lebih Hidup