in

Ulang Tahun

Waktu kecil, saya memiliki beberapa jenis mainan. Salah satunya adalah mainan robot yang bisa berjalan dan membuka tutup kepalanya. Ketika tutup kepalanya terbuka, terlihatlah robot berbentuk singa dan membuka mulutnya seolah mengaum. Mainan ini saya dapatkan ketika berumur 4 tahun. Robot ini adalah robot langka. Karena, dicari di daerah manapun di lombok, nggak akan ketemu penjualnya.

Terang saja, robot ini diberikan oleh paman saya yang ada di Jakarta sebagai hadiah ulang tahun. Hampir setiap tahun paman saya mengirimkan saya mainan sebagai hadiah ulang tahun. Padahal, dirayakan pun enggak. Hanya ulang tahun pertama saja yang pernah dirayakan oleh keluarga saya.

Cerita ini adalah akal-akalan bapak saya. Dia adalah biang keladi kenapa paman saya selalu mengirimkan hadiah.

Dulu, masih jamannya surat-suratan. Setiap menjelang ulang tahun saya, bapak selalu berkirim surat kepada paman saya yang ada di Jakarta untuk mengabarkan bahwa saya berulang tahun. Masalah dirayakan atau enggak, tentu nggak dijelaskan sama bapak saya. Mendapat kabar seperti ini, tentu paman saya tergerak untuk mengirimkan hadiah. Inilah yang mejadi satu-satunya hadiah bagi saya setiap tahunnya hingga menginjak usia SD, paman sudah nggak mengirimkan hadiah lagi.

Alasan paman nggak mengirimkan hadiah lagi tentu sudah jelas. Karena ketahuan ulang tahun saya nggak pernah dirayakan. Cara paman saya tahu dengan meminta foto-foto perayaan ulang tahun saya pada bapak. Disanalah bapak berhenti membalas atau berkirim surat lagi pada paman saya.

Mungkin saya adalah satu-satunya orang yang nggak begitu menikmati perayaan seperti ini. Sejak kecil, hanya 2 kali saya merayakan ulang tahun. Ketika ulang tahun pertama, dan beberapa waktu lalu ketika mantan pacar saya mendesak untuk merayakannya. Katanya sebagai bagian dari pendekatan terhadap keluarga. Hanya demi dia saya mau menjalaninya. Padahal, saya nggak bisa menikmati perayaan seperti ini. Saya gagal mendefiniskan bagaimana harus bersikap.Terutama dalam perayaan dimana saya adalah pusat perhatiannya seperti ulang tahun ini.

Saya masih ingat, ketika bekerja di sebuah bank dimana ada tradisi membawakan kue dan tiup lilin untuk karyawannya yang ulang tahun. Acara tiup lilin ini diadakan setiap pagi, sebelum jam kerja dimulai. Bahkan, nama-nama orang yang berulang tahun diumumkan kepada seluruh karyawan.

Ketika hari ulang tahun saya tiba, saya memilih untuk datang terlambat dan diomelin sama HRD daripada ikut dalam perayaan itu. Mungkin, karena saya lebih bisa menikmati diomelin HRD daripada dinyanyikan lagu selamat ulang tahun oleh seluruh karyawan. Saya lebih mengenali gimana harus bersikap atas omelan HRD daripada ketika ditepuki dan dinyanyikan lagu ulang tahun oleh 100 an karyawan.

Ulang tahun ini sebenarnya adalah perayaan yang aneh. Sebuah perayaan yang terus menerus dirayakan tanpa ada yang tahu asal muasalnya. Tanpa orang tahu sejak kapan dimulainya dan dimana dimulainya.

Apakah, perayaan ulang tahun ini sebegitu mendunianya hingga menjadi milik dunia dan nggak ada yang berhak mengklaim sebagai tempat berasalnya perayaan ini? Bukankah menjadi sebuah keanehan yang maha goib kalau kita merayakan sesuatu yang kita nggak tau?

Asumsi saya, perayaan ulang tahun ini adalah budaya yang di ada-adakan oleh perusahaan percetakan jaman dulu. Mereka memerlukan perayaan yang rutin untuk menjaga kestabilan usahanya. Bila perlu, mereka membuat setiap hari sebagai hari yang layak dirayakan hanya agar mereka bisa memproduksi kartu ucapan untuk dibeli konsumennya. Ini hanya asumsi lho ya, bisa jadi fakta, bisa juga nggak. Karena, saya sendiri nggak menemukan sejarah dan asal muasal perayaan hari ulang tahun ini.

Waktu muda dulu (duh… jadi ingat umur), saya dan beberapa kawan saya melakukan hal yang sama. Setiap hari mencari apapun yang layak untuk dirayakan sebagai alasan agar bisa mabuk. Jawaban paling sederhananya adalah si A ulang tahun, si B lagi syukuran, si C lagi gajian dan seterusnya. Hanya agar ada alasan untuk mabuk. Padahal sebenarnya kami nggak perlu alasan untuk mabuk. Mabuk ya mabuk aja. Tapi, kalau sekedar mabuk rasanya kurang greget. Lebih greget kalau mabuk dengan satu landasan yang kokoh yaitu sebuah perayaan. Entah itu perayaan yang dibuat-buat atau perayaan beneran.

Eh, ada lho kawan saya yang mengkhususkan budget untuk mabuk ketika dia benar-benar ulang tahun. Katanya, dia lebih senang merayakan ulang tahunnya bersama kawan-kawan daripada sama yang lain. Dia adalah tipe lelaki friendzone abadi, alias hanya bisa menjadi kawan, termasuk menjadi kawannya para perempuan yang dia dekati. Sebab itu dia jomblo dalam waktu yang lama. Hingga pada suatu hari ada perempuan yang bersedia mejadi kawannya seumur hidup, ciye..

Beberapa orang menganggap ulang tahun sebagai sesuatu yang sakral, sesuatu yang harus diingat. Hal ini berlaku terutama kepada pasangan kekasih. Sebuah kewajiban ketika jam 00.00 pada hari ulang tahunnya menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat. Pantang untuk menjadi yang kedua apalagi yang ketiga. Karena yang pertama adalah yang spesial.

Melupakan hari ulang tahun adalah awal sebuah bencana. Bisa jadi bencana yang berkepanjangan. Saya adalah saksi sekaligus korbannya.

Kejadiannya sudah lama sekali, saya lupa pacar yang keberapa. Karena saya nggak mencatat dan hari itu juga kerjaan terlalu banyak hingga saya lupa hari ulang tahunnya. Padahal, dari pagi dia sudah memberi kode dengan berbagai macam kalimat melalui sms. Eh, waktu itu belum ada Whatsapp, paling banter telp dan sms, gawai paling canggih waktu itu juga cuma Sony Ericsson T610.

Peristiwa lupa ulang tahun ini lah yang membawa derita berkepanjangan buat saya. Mulai sejak itu, setiap yang saya lakukan akan terlihat salah dan kalimat yang digunakan untuk menyalahkan adalah “kamu nggak sayang sama aku”. Ketika saya jawab, otomatis dia mematikan kalimat saya dengan “Bagaimana kamu bisa bilang sayang kalau ulang tahunku aja kamu nggak ingat”. Disinilah saya merasa lebih bersalah lagi. Senjata itu dia gunakan hingga tahun berikutnya yang membuat saya trauma untuk nggak mengingat ulang tahunnya.

Belakangan, saya mulai meninggalkan untuk mengingat ulang tahun siapapun. Bahkan saya mencoba untuk nggak ngucapin selamat ulang tahun pada sesiapapun. Karena, menurut saya, membuat orang ingat pada ulang tahunnya secara nggak langsung akan membuat mereka ingat pada umurnya.

Ketika mengingat umur otomatis juga mereka akan mengingat usia yang makin pendek. Dan, ketika mereka ingat mengingat usia yang pendek, mereka terbebani oleh pikiran bahwa mereka belum memberi manfaat apa-apa pada lingkungannya. Dengan kata lain, mengucapkan selamat ulang tahun membuat orang terbebani oleh pikiran bahwa mereka belum memberi guna apa-apa pada lingkungannya.

Tau sendiri kan sakitnya ketika kita nggak memberi guna apa-apa pada lingkungan kita? Ini menurut saya lho, jadi terserah kalian mau percaya atau enggak. begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 8 =

Valentine

Guru Pukul Siswa Pukul Guru