in

Valentine

“Nak ngudiang kone to cerik-cerike pada rame meli coklat, Pak Man?” Tanya Pak De Dimpil kepada Pak Man Kancrut yang sedari tadi bengong. Entah sedang memikirkan apa.

“Ento suba ane bakat kenehang iraga Pak De. Cerik-cerike nak sedang merayakan Valentine apa adane cara janine” Jawab Pak Man Kancrut.

“Apa madan Valentine, Pak Man?” Tanya Pak De Dimpil.

“Valentine ento hari kasih sayang, kone” Jawab Pak Man Kancrut.

Percakapan itu berlanjut pada penjelasan mengenai hari Valentine yang sebenarnya baru dimulai pada abad ke 18. Bumbu cerita cinta dan kesuburan yang dimunculkan dari cerita romawi kuno adalah bagian dari glorifikasi perayaan hari Valentine hanya agar terkesan berhubungan. Padahal, kalau ditelisik lebih jauh, perayaan hari Valentine adalah bagian strategi promosi dari industri yang melibatkan cinta.

Jika dulu ungkapan cinta melakui kartu ucapan. Maka era sekarang ini ungkapan cinta dilakukan dengan bunga dan coklat. Mungkin saja ungkapan cinta dengan bunga sudah dilakukan sejak dulu. Tapi, tidak mungkin juga rasanya mengirimkan bunga kepada seseorang yang jauh. Belum sampai malah keburu layu bunganya. Belum lagi pengiriman yang nggak bagus bisa menyebabkan kerusakan dari bunga itu sendiri. Yang paling masuk akal adalah dengan mengirimkan surat atau kartu ucapan.

Kartu ucapan itu bisa dibilang sejenis dengan kartu pos. Eh, masih ada yang tahu nggak sih kartu pos itu apa? Mungkin sekarang sudah punah. Tapi, dulu, kartu poslah yang digunakan orang untuk mengucapkan selamat pada perayaan hari tertentu. Setiap kartu pos memiliki ciri khas gambar yang dicetak menyesuaikan dengan daerah dan perayaan dimana kartu pos itu berada.

Saya masih ingat, dulu, setiap tempat wisata pasti menjual kartu pos untuk para wisatawan. Umumnya kartu pos bergambar khas Bali. Jadi, para wisatawan bisa mengabari sanak saudaranya bahwa mereka sedang berada di Bali. Era senja kartu pos dimulai saat telepon genggam dengan fasilitas sms mulai marak ditengah masyarakat. Dan, era kematiannya pada saat email sudah bisa diakses setiap orang.

Jaman sekarang ini, ungkapan cinta yang katanya abadi disimbolkan dengan berlian. Batu kecil mungil dengan harga selangit. Anehnya, banyak yang percaya kalau dengan memberi batu itu berarti seseorang mencintai orang lain. Lebih aneh lagi, banyak orang yang rela mengeluarkan uang hingga ratusan bahkan milyaran untuk satu batu yang katanya langka itu. Padahal, mau diolah seperti apapun, tetap saja berlian itu adalah batu. Nggak beda dengan batu lainnya.

Industri berlian tidak kalah perannya dalam mebudayakan Valentine. Merekalah yang justru meraup keuntungan terbesar dari industri yang melibatkan cinta ini. Mereka yang berhasil membuat berlian seolah menjadi simbol cinta yang abadi. Seolah, berlian terkait dengan cinta yang abadi. Kalau merek rokok mengatakan nggak ada loe nggak rame. Maka berlian megatakan nggak ada cinta tanpa berlian.

Anak-anak jaman sekarang, latah merayakan Valentine sebagai hari kasih sayang. Entah kasihnya untuk siapa, dan entah sayangnya untuk siapa. Mungkin juga mereka nggak ngerti apa arti kasih sayang.

“Mih… Seken gati orta ajake dadua asane ne” Sapa Pak Yan Bracuk yang baru datang kemudian mengambil tempat duduk.

“Kopi sik luh” Panggil Pak Yan Bracuk memesan kopi ke Men Kempli.

“Kopi apa ne Pak Yan? Pahit apa manis?” Tanya Men Kempli.

“Kopi pahit dogen, hidupe suba keliwat manis” Jawab Pak Yan Bracuk sambil tersenyum genit.

“Ao.. Hidup Pak Yan manis, Hidup tiange pahit, pengeng mikirin hutang ane sing bayah-bayah Pak Yan” Celetuk Men Kempli.

“Mara negak suba kena serangan mendadak. Gedeg basange, kayang dagange kar bayah nyen” Jawab Pak Yan Bracuk.

“Saling ke mayah dagang, kopi aji 2 ribu gen ngutang terus. BBD Pak Yan ne” Jawab Men Kempli.

“Apa to BBD?” Tanya Pak Yan Bracuk.

“Bungut-Bungut Dogen” Jawab Men Kempli sambil menyerahkan segelas kopi ke Pak Yan Bracuk.

“Mih… Galak gati dagange” Kata Pak Yan Bracuk.

“Ne Pak De Dimpil busan metakon soal Valentine. Suba kar jelasang masih bedik-bedik apang Pak De ngerti asal muasal hari Valentine ento” Kata Pak Man Kancrut.

“O… Hari ngae beling sedunia to?” Celetuk Pak Yan Bracuk.

“Adi bisa ngae beling? Nak hari kasih sayang, kone” Tanya Pak Man Kancrut.

“Men, nak ngudiang hari kasih sayang ngemang coklat misi bunga di bungalow? Yen sing ngae belingan apa men adane ento?” Sahut Pak Yan Bracuk.

“Badah, pantes suba i Gede tunian dingeh nelpun misi bunga-bunga keto. Jeg bungalow ternyata. Kar telpun jani panake pang enggal mulih. Nu masuk suba nawang bungalow. Iraga kanti tua kene sing taen ngenjek bungalow” Sela Pak De Dimpil terlihat panik.

“Beh, Pak De, Bungalow sing nawang, tapi hotel nawang” Celetuk Pak Yan Bracuk.

“Ao.. gigis” Jawab Pak De Dimpil cekikikan.

“Boya je keto, Pak Yan. Anak i Gede nu masuk. Nah, pang pragat malu sekolahne mara ngitungang ane keto. Yen nu masuk suba ngitungan ane keto, apa kar bang panak anake nyanan. Megae tonden, pis sing ngelah. Dadi batu ajak bias tunden ngerongot panak anake?” Lanjut Pak De Dimpil.

“Tumben Pak De Dimpil cerdas, nah?” Sahut Pak Man Kancrut.

“Soal ane kene, sing je sombong, iraga nak suba belus puwun, Pak Man. Kanti ke leke-leke suba tawang tongosne. Tapi, yen soal renung merenung, baang Pak Yan Bracuk gen ane demen merenung, iraga tusing bisa merenung, jeg langsung eksekusi dogen” Sahut Pak De Dimpil sambil cekikikan.

Pak De Dimpil pun mulai mengambil telepon dan menelepon anaknya agar segera pulang. Tentu disertai dengan ancaman kalau nggak pulang, motor dan handphone anak disita. Kalau masih bandel juga, I Gede, anaknya akan dihapus dari daftar kartu keluarga. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − fifteen =

Pariwisata Bali Untuk Siapa?

Ulang Tahun