in

Wajah Yang Tersenyum

Entah kenapa, setiap wajah yang tersenyum yang saya saksikan di Youtube hari ini begitu membangkitkan kenangan tentang orang-orang yang pernah tersenyum dan tertawa bersama saya. Ada selintas rasa yang terlupa dan bangkit kembali. Rasa yang begitu “maknyus” dan sanggup menulari saya untuk ikut tersenyum bersama.

Mungkin memang benar kalau senyum itu menular. Mungkin memang benar kalau tawa dan bahagia itu mampu mempengaruhi siapapun yang ada disekitarnya. Siapapun, bahkan orang yang sedang dirundung duka sekalipun. Senyum itu dominan, kebahagiaan itu selalu mampu mendominasi segala rasa lain yang ada ketika itu.

Saya menyaksikan mereka tersenyum oleh hal-hal yang sangat sederhana. Bahkan hanya dengan bertemu idola mereka. Ekspresi bahagia mudah sekali terpancar dari wajah mereka. Senyum yang sumringah, dengan mata yang berkaca-kaca menyiratkan dalamnya rasa bahagia itu, dalamnya senyum itu. Ekspresi yang hanya beberapa menit, bahkan detik, namun mampu untuk mengantarkan cerita pada siapapun yang menyaksikannya.

Ada banyak cerita-cerita sederhana yang telah kita lalui bersama orang-orang disekitar kita. Ada banyak cerita bahagia dan tertawa bersama yang telah kita lewati. Kita sering melupakan itu semua. Kita sering larut pada satu pesan bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih oleh orang kaya.

Orang miskin tidak akan bisa bahagia. Hanya orang kaya sajalah yang bisa bahagia. Setidaknya, ini adalah pemikiran orang kebanyakan. Pemikiran yang membuat sebagian orang rela melakukan apa saja demi mengejar kemapanan. Pemikiran yang sanggup membuat sebagian orang salah mengartikan mana kesenangan mana kebahagiaan.

Kebanyakan orang merelakan 80-90 persen waktunya untuk mengejar kemapanan yang mereka pikir adalah sumber kebahagiaan. Mereka berpikir setumpuk uang dan segala kemewahan itu akan mendatangkan kebahagiaan. Hingga, mereka lupa bahwa waktu yang mereka habiskan tidak akan pernah kembali.

Begitu sulit bagi mereka untuk menyusun kembali cerita yang akan meninggalkan kesan di masa depan. Bahkan mungkin, mereka tidak memiliki cerita lain dalam hidupnya selain mengejar dan menghabiskan uang. Mereka tidak memiliki cerita yang saling bersinggungan antara dirinya dengan orang-orang disekitarnya.

Miris rasanya ketika dalam sekumpulan orang-orang yang kita kenal, kita tidak mengerti, bahkan tidak tau apa yang mereka ceritakan. Kita tidak berada disana ketika cerita itu terjadi.

Kita tidak bisa ikut tertawa karena kita sendiri sibuk mencari jawaban atas “dimana saya ketika cerita itu terjadi?”. Bahkan sekumpulan harta yang kita miliki tidak akan sanggup ikut memantik senyum ketika itu. Senyum lepas yang ditertawakan kawan-kawan kita atas sebuah cerita nostalgia yang tidak mungkin terulang kembali. Tidak akan bisa kita raih kembali.

Jika ingin mendapatkan gambaran jelas tentang kadar kebahagiaan dalam hidup kita. Kita bisa setidaknya menggunakan ilmu statistik untuk ini. Cobalah kita berhitung, lebih sering mana antara kita tertawa atau bersedih. Lebih sering mana antara kita bergembira atau menangis.

Saya cukup yakin kalau kita semua lebih sering tertawa dan bergembira daripada bersedih. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya hidup kita adalah hidup yang bergembira. Tapi, kita sering melupakan ini. Sebagaimana kita cenderung lebih mudah mengingat pengalaman menyedihkan daripada kegembiraan.

Sakit, sedih, terluka, adalah kejadian-kejadian negatif yang mudah sekali untuk kita ingat. Tapi, susah untuk kita lupakan. Kejadian-kejadian negatif ini lebih banyak mempengaruhi ingatan kita. Lebih dominan terhadap ingatan-ingatan lainnya yang kita alami dalam hidup ini.

Banyak orang yang bahkan larut dalam kesedihannya untuk jangka waktu yang sangat lama. Inilah yang saya sebut dengan orang-orang yang lupa untuk berbahagia. Mereka lupa untuk bergembira. Mereka lupa bahwa cerita-cerita gembira justru lebih banyak terjadi dalam hidupnya dibanding cerita muram.

Ketakutan, iya, ketakutan itu adalah sumber yang sangat bisa memotivasi kita untuk berubah dan melupakan bahwa kegembiraan lebih layak untuk kita jalani. Ingatan yang terlalu tajam atas segala pengalaman buruk dalam hidup kita yang memunculkan ketakutan itu.

Jika ingatan kita telah terdominasi oleh ketakutan, maka disanalah fokus kita akan teralihkan. Kita pikir kita berfokus pada pengejaran atas kegembiraan dan kebahagiaan. Tapi, nyatanya, kita menghabiskan banyak waktu untuk berfokus pada ketakutan itu sendiri. Kita tenggelam pada rasa takut kita sendiri. Iya, kita salah fokus. Yang menyebabkan kita salah memaknai perjalanan hidup kita.

Berfokus pada ketakutan akan menghindarkan kita dari kegembiraan. Sedangkan berfokus pada kegembiraan akan mendekatkan kita pada kegembiraan itu sendiri. Kita semua punya beragam cara untuk bergembira. Yang pasti, setiap kegembiraan adalah cerita yang akan terus bisa kita bagikan untuk ikut menggembirakan orang lain. Jadi, berfokuslah pada kegembiraan itu sendiri, dan hapuskan semua ketakutan yang membayangimu selama ini. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − four =

Galau Nonton Bokep

Jadi Bodyguard