in ,

Wiraswasta Tubuh

Wiraswasta tubuh, Ungkapan ini melekat di kepala saya sejak SMP. Saya mendengarnya pertama kali melalui lagu Putri yang dinyanyikan oleh Jamrud. Lagu ini begitu populer di kisaran tahun 97an. Maklum, waktu itu sangat jarang ada band yang segahar dan setajam Jamrud. Lirik yang mereka sajikan nyeleneh dibungkus dengan musik rock gahar.

Sungguh perpaduan yang sangat langka ketika itu. Saya bukan salah satu penggemar fanatik mereka, saya hanya mendengarkan mereka dari kaset yang saya pinjam dari teman dan beberapa acara musik di TV.

Lagu Putri yang membawa band ini populer ketika itu. Lagu ini menceritakan tentang seorang gadis belia yang baru melek. Istilah sekarangnya sih anak baru gede (ABG). Yang kemudian menjadi liar hanya karena ingin terlihat keren dan dibilang seksi. Bahkan, dalam lagu ini, si ABG diceritakan sanggup melakukan apa saja hanya agar terlihat keren. Pokoknya apa saja yang berbau USA akan dia lakukan hanya demi satu kata, keren.

Seingat saya, jaman itu, masih belum banyak perempuan yang berani tampil dengan pakaian minim. Jangankan rok mini, celana pendekpun masih belum banyak. Ada beberapa sih yang mencoba menunjukkan eksistensinya. Tapi itupun sebatas memendekkan rok diatas lutut dan lipat lengan baju. Belum sampai pada rok mini. Belum sampai pada paha dan belahan payudara yang bergentayangan seperti sekarang ini.

Bukan berniat untuk mebedakan perempuan atau lelaki. Keduanya memang sejak dulu berjalan untuk mengejar satu kata, keren itu. Tapi, pengejaran mereka berbeda bentuk. Perempuan mengejar melalui seminim-minimnya pakaian, agar kemolekan tubuhnya bisa menarik perhatian lelaki. Sedangkan lelaki mengejarnya melalui sebanyaknya tatoo dan segondrongnya rambut. Apalagi jika bisa memainkan alat musik, sungguh lelaki itu terlihat keren maksimal.

Mungkin inilah yang hendak dikritik oleh Jamrud dalam lagunya tersebut. Bukan karena gaya berpakaian perempuan ketika itu. Tapi, karena kelanjutan dari pengejaran atas keren itu menjadi kebablasan.

Hanya karena ingin keren, lalu mengekor gaya hidup USA. Bercinta di drive in sambil weekend. Hanya karena ingin keren, lalu tubuhnya di gratiskan untuk dinikmati lelaki. Hanya karena ingin keren, kebodohan, demi kebodohan itu rela dilakukan.

Jamrud mendefinisikan ini sebagai pengejaran yang nggak pasti. Pengejaran yang sia-sia. Karena, yang rugi ya dia sendiri. Setelah hamil lalu ditinggalkan oleh semua teman lelakinya. Dia hanya bisa mengurung diri dalam kamarnya karena bunting.

Iya kalau kemudian tubuhnya di wiraswastakan. Kalau tidak? rugi besarlah perempuan itu.

Wiraswasta tubuh yang dimaksudkan adalah mendapatkan penghasilan atau keuntungan melalui tubuhnya. Singkatnya sih bisa dibilang dengan berjualan tubuh. Bukan hanya berbentuk prostitusi atau berjualan syahwat. Tapi, bisa juga dalam bentuk berjualan kemolekan tubuh. Semisal menjadi model foto seksi, atau menjadi bintang iklan pembesar payudara. Bisa juga hal lain yang mengeksploitasi kemolekan tubuhnya untuk mendapatkan keuntungan atau penghasilan.

Contohnya saja model, atau yang sekarang lagi populer adalah Selebgram. Mereka yang menawarkan kemolekan tubuhnya demi follower, demi like.

Lelaki berusaha mebentuk tubuhnya semacho-machonya, yang perempuan juga mepersolek tubuhnya secantik-cantiknya. Dibarengi dengan sesekali menonjolkan gaya-gaya yang cenderung seksi, dengan pakaianpun yang cenderung seksi. Semakin banyak yang menyukai, semakin besar pula peluang mereka untuk mendapatkan penghasilan.

Mungkin ini yang disebut dengan wiraswasta tubuh jaman sekarang. Dimana tubuh adalah modal yang bisa mendatangkan penghasilan.

Dulu, peluang orang memamerkan kemolekannya di depan umum sangatlah terbatas. Kalau bukan TV ya majalah. Itupun melalui proses dan audisi yang menjadi saringan. Istilahnya, lapangan usaha untuk wiraswasta tubuh masih terbatas.

Tapi, sekarang justru setiap orang bisa memamerkan kemolekan mereka, tanpa saringan, tanpa syarat apapun. Disinilah persaingan itu muncul. Apa jadinya sebuah kompetisi tanpa saringan? Sudah tentu kebablasan.

Pernah ada satu media yang bernama Bigo Live, entah sekarang masih ada atau tidak. Di media ini setiap orang diberi fasilitas untuk tayang secara langsung. Penghasilan yang didapatkan oleh orang di media ini dihitung berdasarkan berapa jumlah kunjungan dan item yang diberikan, semisal like di Facebook atau Instagram.

Beberapa orang mendapatkan penghasilan yang lumayan besar dari media ini. Salah satu yang saya kenal adalah Olyvia Boss. Dia mendapatkan penghasilan yang lumayan besar perbulannya dari media ini. Kerjanya cukup mudah, tinggal buka aplikasinya, kemudian joget-joget di depan kamera. Hanya itu. Dan dia mendapatkan penghasilan dari melakukan itu setiap hari.

Seperti halnya di atas langit masih ada langit. Diatas orang seksi masih banyak yang lebih seksi. Untuk saling mengungguli satu sama lain mulailah kemolekan itu ditambah dengan bumbu lain. Semisal pakaian yang minim dan transparan, hingga mempertontonkan ketelanjangan.

Beberapa kali saya saksikan, Olyvia Boss dengan sengaja tidak mengenakan celana dalam untuk kemudian mengangkat rok nya hingga vaginanya terlihat. Bukan hanya itu, beberapa yang lainnya malah ada yang mengangkat baju hingga payudaranya terlihat. Dan itu mereka lakukan hanya demi banyaknya pengunjung pada channel Bigo Live mereka. Demi penghasilan yang akan mereka dapatkan karena ramainya kunjungan ini.

Eit, semua tidak berhenti sampai disana.

Pada salah satu channel Bigo Live, saya lupa siapa namanya. Ada yang bahkan mempertontonkan persenggamaan secara langsung. Meskipun tidak terang-terangan, tapi persenggamaan itu mereka lakukan dalam kondisi sedang tayang secara langsung. Entah apa yang ada pada benak mereka, tapi, menurut saya, ini adalah bentuk kebablasan dari wiraswasta tubuh itu.

Seperti lagu Putri yang dinyanyikan oleh Jamrud. Bukan masalah pakaian atau pamer kemolekan tubuh yang dipersoalkan. Karena setiap orang berhak atas tubuhnya sendiri dan bagaimana mereka berpakaian. Tapi, yang dikritik adalah dampak lanjutan dari persaingan itu. Dampak lanjutan dari pengejaran atas kata keren itu. Yang dikritik adalah kebodohan demi kebodohan yang rela dilakukan hanya untuk mengejar kata keren itu. Yang rugi bukanlah orang lain, yang rugi adalah dia sendiri. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 4 =

Golkar dan Intimidasi

Arak yang Istimewa