in ,

Wisata Belanja

Hingga saat ini, saya masih belum mengerti, mungkin bisa dibilang belum bisa menikmati yang namanya wisata belanja. Misalnya, belanja pakaian mahal di luar negeri dan yang sejenisnya. Saya nggak menemukan kenikmatan didalamnya selayaknya berwisata. Yang saya dapatkan hanyalah mumet dan kelelahan ketika beberapa kali menemani mantan pacar saya berbelanja.

Eh udah jadi mantan kok diungkit? Bukan, ini bukan mengungkit, cuma kebetulan dia ada ketika cerita ini terjadi. Nggak ada salahnya kan bercerita tentang dia, toh, dia sekarang sudah bahagia disana dengan yang lain. #hiks.

Berbeda dengan ketika mengunjungi Danau Batur, misalnya. Atau ketika bersepeda menyusuri petakan sawah di belakang rumah saya menuju pantai. Iya, saya merasakan kelelahan itu, tapi didalamnya ada rasa tenang dan nyaman yang menurut saya adalah tujuan utama dari berwisata. Bukankah berwisata itu bertujuan untuk menyamankan diri? Berleha-leha menikmati kenyamanan yang sangat jarang terjadi dalam keseharian kita.

Yang lebih membuat saya nggak mengerti adalah, ketika belanjaan itu menumpuk di lemari dan terlupakan. Rasanya begitu aneh ketika membeli barang kemudian menumpuknya di lemari tanpa menggunakannya. Buat apa mengeluarkan uang untuk barang yang nggak akan digunakan? Bukankah ini sama dengan menumpuk “sampah”?

Dari sinilah muncul permasalahan yang lain. Karena barang sudah menumpuk, akhirnya diperlukan penyimpanan yang lebih besar. Tentu, penyimpanan yang lebih besar berarti ganti lemari, dong. Nah, dipersiapkanlah biaya baru untuk membeli lemari baru yang lebih besar. Tujuannya hanya untuk bisa menampung barang belanjaan tadi yang belum tentu digunakan. Eh, itu baru barang yang berupa pakaian aja lho. Kita belum berbicara mengenai rak sepatu yang tentu ikut diperbesar. Jangan lupa juga ada lemari untuk tas yang tentunya ikut diperbesar.

Semakin menumpuk barang-barang tersebut, semakin diperlukan penyimpanan yang lebih besar. Hingga pada satu titik, diperlukan satu kamar khusus untuk menampung. Ada yang pernah nonton film Sex and The City? Ada satu adegan dimana Carrie Bradshaw dihadiahi satu ruangan khusus untuk menyimpan barang-barangnya oleh Mr Big. Nah, seperti itulah hasil dari wisata belanja ini. Barang menumpuk, dipakai juga enggak. Bahkan, banyak yang sering dilupakan.

Itu baru perihal tempat penyimpanannya. Kita belum berbicara tentang masalah lainnya. Biaya perawatan selama penyimpanannya, apa lagi ya? Duh, kalau harus dihitung, banyak sekali embel-embel yang mengikuti satu wisata belanja ini.

Ada satu cerita unik tentang teman dekat saya yang sangat suka akan belanja. Dia rela untuk menabung dan membeli barang apapun yang dia sukai. Semisal saja, satu tas yang harganya hingga beberapa juta rupiah. Kerja keras selama beberapa bulan disulap hanya menjadi satu barang saja. Karena saking senengnya belanja, dia membeli berbagai barang yang dia sendiri tidak tahu kapan dan dimana harus dikenakan.

Pernah dia membeli sebuah sepatu hak tinggi warna silver. Dia hanya memajang sepatu tersebut di kamarnya karena dia tidak tahu kemana harus mengenakannya. Ibaratnya seperti membeli sepatu hanya untuk dilihat saja. Karena, untuk digunakan sehari-haripun rasanya nggak cocok.

Pernah juga dia membeli sebuah gaun yang begitu dia sukai. Gaun inipun hanya nangkring di lemari, lengkap dengan bungkus-bungkusnya. Karena kedua barang tersebut nggak pernah menemukan momen yang tepat untuk dikenakan. Akhirnya, dia punya ide untuk membuat acara sendiri. Tujuannya hanya agar sepatu hak tinggi dan gaunnya bisa dan pernah digunakan. Biar nggak sia-sia membeli sepatu dan gaun tersebut.

Kemana lagi seorang perempuan mengenakan sepatu hak tinggi dan gaun kecuali ke acara makan malam. Itupun makan malamnya di tempat yang agak mahal. Tempat makan bule – bule dengan masakan aneh – aneh, kan kalau makan malamnya di tempat lain seperti warung nasi babi guling, atau warteg atau warung ikan bakar maka bajunya akan norak sendiri alias salah kostum. Ngeliat daftar menu di restoran itu saja sudah bikin saya pusing. Belum lagi ketika mencicipi makanannya. Lidah saya yang terbiasa dengan masakan desa serasa diperkosa oleh keju dan mayonaise.

Eh, masakan restoran yang dikatakan enak itu sebenarnya aneh lho. Rasanya aneh dan seperti campur-campur. Mungkin itu kategori enak menurut mereka. Menurut saya sih enggak. Mungkin juga, karena lidah saya nggak terbiasa dengan rasa-rasa aneh itu. Kembali lagi, ujung dari satu wisata belanja tersebut adalah penghamburan dari uang karena hanya untuk bisa mengenakan gaun yang sudah dia beli.

Satu contoh lagi. Seorang emak membeli sebuah tas import yang harganya hingga beberapa puluh juta rupiah. Meskipun emaknya dari desa, tapi soal selera jangan salah. Seleranya barang asli dan langsung import dari Paris. Kebetulan, salah satu kerabatnya menikah dengan orang perancis dan tinggal di Paris. Saking mahalnya, untuk mengenakan tas itu pun harus memilih tempat. Nggak boleh sembarangan. Bahkan, si emak selalu membawa satu tas plastik sebagai alas ketika menaruh tas tersebut atau bisa juga sebagai pembungkus agar nggak disenggol ketika dalam keramaian. Bayangkan jika tas itu kena senggol orang dekil seperti saya. Dijamin, telinga saya bisa meledak kena omelan si emak.

Untuk perawatan tas diperlukan biaya pencucian rutin. Tau nggak biaya mencuci tas tersebut? Yah, sekitaran beberapa ratus ribu rupiah. Terdengar kecil jika dibandingkan dengan harga tasnya. Tapi, kalau diakumulasikan, tentu biaya pencuciannya bisa setara dengan harga tasnya jika dipakai untuk waktu yang lama. Saya membayangkan tas itu seperti Tuyul. Tas bukan lagi sebagai penyimpanan barang berharga dan uang. Tapi pengambil dan penghabis uang.

Saya sendiri bukan tipe orang yang mempermasalahkan belanja atau apapun kegiatan para perempuan, Tapi saya lebih menekankan pada pengurangan dari ribet, ruwet dan apapun yang mengikuti kegiatan belanja itu. Karena di setiap belanja pasti akan diiringi dengan masalah-masalah yang menyertainya. Seperti, kaki pegal – pegal, lapar, haus dan nggak bisa makan karena uang habis untuk belanja. Dan… yang paling parah, bensin habis dan nggak ada stok uang untuk beli bensin setelah belanja. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 15 =

Raja-Rajaan

Miskin Ulian Tajen