in ,

Yang Waras Ngalah

Pagi, bangun tidur di sebuah daerah sejuk di Singaraja. Saya duduk sambil meminum segelas kopi hangat. Tentu, kopi pagi itu ditemani dengan sebatang rokok. Eh, 2 batang. Mungkin 3 atau 4 batang, atau lebih.

Disebelah tempat duduk saya ada sepasang sandal berserakan. Tali sandal itu putus, karetnya compang camping bekas gigitan anjing. Seekor anjing masih asik menggigiti sandal itu tanpa rasa bersalah.

Benar sekali jika anda menebak sandal itu milik saya. Sandal itu memang sandal yang baru kemarin saya beli. Benar-benar baru kemarin alias baru sama sekali. Tapi, saya nggak punya gairah untuk marah sedikitpun menyaksikan sandal saya dikoyak sedemikian rupa.

Karena, menurut saya nggak akan ada gunanya memarahi apalagi mengamuk kepada seekor anjing. Mau diapakan juga anjing akan tetap jadi anjing dan melakukan hal-hal yang anjing lainnya lakukan seperti menggigit dan mengoyak sandal.

Kalaupun mau mencari kesalahan, tentu saya yang salah, karena salah menaruh sandal. Harusnya sandal itu saya tempatkan di tempat yang aman dan nggak bisa dijangkau oleh anjing. Bukan malah meletakkannya sembarangan.

Mungkin ini yang dimaksud oleh ungkapan “yang waras ngalah”. Di posisi itu, sayalah yang waras, bukan anjing. Eh, emang ada anjing yang waras? Jika ada yang bilang kalau anjing itu waras, berarti ada masalah dalam kewarasan orang itu.

Sebenarnya apa sih waras itu? Siapa yang berhak menentukan mana yang waras dan nggak?

Setahu saya, kewarasan sebenarnya bisa dilihat dari siapa yang lebih menguasai suatu masalah. Tentu ukurannya nalar yang ditakar dengan pengetahuan yang memadai.

Tapi sekarang, berbeda sama sekali. Waras dan tidaknya seseorang lebih cenderung ditentukan dari nalar dan dukungan publik. Semakin banyak yang mendukung akan dianggap semakin waras. Sebaliknya, yang kurang dukungan dianggap kurang waras.

Ungkapan yang waras ngalah belakangan lebih banyak digunakan sebagai kalimat ejekan, kalimat nyinyir untuk menyudahi adu argumentasi. Mulai dari debat politik, hingga debat lain-lain yang nggak berkesudahan. Padahal, yang mengucapkan belum tentu lebih waras dari yang lainnya. Eh, bahkan mungkin nggak ada yang waras.

Wajar kemudian jika ada yang berpendapat kalau kewarasan dalam era sekarang ini bukanlah ditentukan oleh benar dan tidaknya suatu pendapat, melainkan ditentukan oleh pembenaran atas suatu pendapat.

Semakin kukuh seseorang mempertahankan pendapatnya dengan segala pembenaran, maka semakin waras dia pikir dirinya. Meskipun pendapat itu dipertahankan dengan segala pembenaran termasuk cocoklogi di luar konteks.

Sering saya menemukan orang-orang yang begitu rajin berinteraksi di sosial media. Dan, sering juga orang-orang seperti ini dipercaya oleh banyak orang. Beberapa kali juga saya beradu argumentasi dengan orang-orang seperti ini, tapi, tetap saja yang terjadi adalah argumentasi saya tenggelam oleh banyaknya argumentasi lain di luar konteks pembicaraan.

Ujungnya tetap, haruslah disadari kalau setiap orang punya kebebasan untuk perpendapat dan berpuas diri atas ejakulasi teorinya. Ujungnya tetap harus kembali pada pendapat kalau yang waras ngalah. Mereka nggak akan berubah apapun yang terjadi.

Tapi, yang perlu dipahami adalah tujuan untuk menyanggah pendapat atas isu publik bukanlah untuk mengubah mengubah pemikiran orang-orang yang selalu mencari pembenaran. Biarkanlah mereka dengan pembenaran mereka. Menyanggah pendapat atas isu publik bertujuan untuk memberi pemikiran alternatif agar mereka, para pelaku masturbasi teori tidak dominan atas isu-isu publik.

Diamkan saja mereka, para pelaku masturbasi teori ini. Nggak perlu terlalu menghabiskan energi atas mereka. Tetap nikmati hari-hari dengan memberikan sanggahan hanya agar mereka tidak terlalu dominan.

Mereka yang waras ya nggak perlu ikut-ikutan dalam debat menang-menangan. Nggak harus menang juga, kan. Ngalah aja, biarpun dikatakan ini dan itu. Mereka yang waras layaknya memang menyanggah untuk mencegah dominasi yang salah, bukan untuk menang. Begitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + 3 =

Ada Bau di Pesawat Lion Air

Takut Sekolah